Disclaimer : Naruto ©Masashi Kishimoto
Cinta Pertama ©HimeDandelion
Pair : SasuHina
Genre : Romance / friendship
Rated : T
Warning
: Hinata dan Sasuke disini OOC, da
Sakura terkesan jahat, tapi sebenarnya baik kok.
.
.
xXx
Istirahat
Di Kelas
Sasuke berpacaran dengan
Karin kelas sebelah, Karin selalu mengunjungi Sasuke kekelasnya. Dilantai
seorang gadis berambut indigo sedang serius membaca novel romancenya yg berakhir tragis, laki-laki
dalam novel itu meninggal dan pura-pura terlihat berselingkuh agar istrinya
tidak mengetahui penyakitnya dan kemudian membencinya setelahnya. Sungguh
tragis, tanpa sadar air mata Hinata mengalir. Dia menutup bukunya.
"Ada yang cemburu nih!!"
Tenten, sahabat Hinata
tiba-tiba muncul disampingnya. Melihat posisinya yang tepat seperti menghadap
Sasuke dan Karin tepatnya seperti bersembunyi (mengintip), kenapa bisa karena Hinata
membacanya tidak dikursi, melainkan di bawah bersandar di tembok tepat
didepanya meja yg melindungi keberadaannya.
'Yang benar saja, kenapa mereka mengira aku
menyukai Sasuke yang sok keren itu. Aku hanya meminta kunci gitar, dan dia
memberikannya. Hanya interaksi sangat sederhana, itupun sdah seminggu yang lalu'
dalam benak Hinata menggerutu.
"Siapa yang cemburu!"
"Hahaha ne Hinata-chan gak usah
disembunyikan lagi kami tau kok"
Kiba juga ikut menimpali.
"Sudah ku bilang aku tidak suka sama Sasuke"
Tenten hanya menanggapi
dengan ber 'OH'
Tidak peduli suaranya
terdengar mereka, yang penting mereka tidak salah paham itu yang Hinata
fikirkan.
"Kalau begitu
tersenyum dong jangan nangis gitu!!"
"Sudahlah Kiba jangan
membuat Hinata tambah sedih"
Hinata yang sedang dongkol
sama teman-temannya ini, malah semakin memojokkannya. Akhirnya Hinata
tersenyum.
" Pfft.. hahahaha ne Hinata-chan
senyumnya aneh banget"
Mereka malah
menertawakannya, membuat Hinata mengerucutkan bibirnya, karena marah dan sebal.
xXx
Di Rumah
"Mosho Moshi"
Seseorang disana menjawab.
"Oi Sasuke To The Point saja, aku tidak
menyukai mu"
"Oh, lalu.."
"Ja-ja..di kau jangan salah paham"
"Ok baiklah jadi hanya
ini!"
"Ya, dan asal kau tau
yang menyukaimu itu Ino bukan aku"
PRAKK tutt tutt tutt
dia menutup telponnya.
Por Sasuke
"Dia gadis aneh, dan kita lihat saja, aku makin tertarik
pada mu."
Menunjukkan serigayannya.
xXx
Disekolah
Besoknya
"Sudah ku bilang aku tidak suka, dan aku tidak mau berurusan
dengan Ino cs, jadi berhentilah menyebut namanya"
"Hinata aku sepupumu, aku percaya padamu.. Sebenarnya,, aku
ingin bilang _*sesuatu pada mu, tapi maukah kau berjanji untuk tidak
mengatakannya, karena ini memalukan."
Pipinya mulai merona.
"Katakanlah aku akan
mendengarkannya"
Hinata memberi kode
mengunci mulutnya.
"Aku sudah menyukai Sasuke sejak pertama masuk
sekolah"
Shion mengakui perasaannya, ya Shion juga sepupu Hinata. Mereka
sekelas. Kursinya pun disebelah Hinata.
xXx
Hari ini Hinata terlambat, jam menunjukkan hampir pukul 09:00.
Jangankan taksi atau bus, angkot pun tidak ada. Hujan mulai turun membuat
pakaianny sedikit basah.
TIN TINN..
Suara klakson motor, seorang pria dengan seragam yang sama.
Memakai helm tertutup.
“Naiklah!”
Hinata menunjuk drinya mulutnya seperti berkata ‘aku’
Pria itu membuka helmnya, dia Sasuke.
“Hn, kau siapa lagi!”
Melihat Hinata naik ke motornya, Sasuke sedikit tersenyum.
Senyuman yang jarang diperlihatkannya.
‘Semoga
tak ada yang melihat ku’
Hinata berdo’a..
Jalanan sedikit becek, Sasuke sengaja mengerem dadakan agar
Hinata berpegangan.
xXx
Didepan
Gerbang Sekolah
Ino dan Sakura membeli alat tulis, tiba-tiba melihat Sasuke
dengan seseorang wanita dibelakangnya.
Hinata melihat mereka
‘Sial’ umpatnya dalam hati. Hinata bersembunyi di punggung
Sasuke. Namun apa daya persembunyiannya ketahuan.
“Rambut indigo itu!”
Sakura mulai curiga, tangannya mengepal.
Berjalan keluar dari
parkir, Hinata dan Sasuke mendapat point 5 karena terlambat, Hinata memberi
semua alasannya namun tetap saja peraturan tetaplah peraturan. Menghela napas
kemudian masuk ke kelas, semua siswa siswi menatapnya pakayannya basah dan
sekarang sudah jam berapa??
Belum lagi dibelakangnya
diikuti murid berandal bernama Sasuke yang hobbynya telat, tapi jadi kebanggaan
para siswi..
Beruntung sekali hari ini
tidak ada guru yang masuk, karena rapat mendadak, pelajaran pertama kosong.
Belum sempat Hinata mengganti pakayannya dia sudah diserang beribu pertanyaan
dari teman-temannya.
"Hinata-chan apa benar
kamu pacaran sama Sasuke?"
"Ino bilang kalian
baru jadian dan berboncengan?"
Dan bla bla bla..
Hinata sedikit melirik
kearah Sasuke dan benar saja dia juga dikerumuni para siswa yang bertanya
tentang hubungan mereka, tapi satu hal menjanggal, kenapa dia tidak menyangkal
ketika dikatakan berpacaran dengan Hinata??
Whatt
"Hinata kamu beneran
pacaran sama Sasuke ya?"
Shion bertanya sedikit
bercanda dan tersenyum.
"Tidak "
Refleks Hinata menjawab
karena dia tau Shion menyukai Sasuke.
"Jangan salah paham
Shion-chan aku hanya kebetulan terlambat dan tidak mendapatkan angkutan umum,
sungguh "
Matanya memancarkan
kesungguhan dan ada penyesalan disana.
"Hey..hey.. Kudengar
Karin kemarin itu berkata ingin pindah sekolah, dia juga menjelaskan kepada
kami bahwa dia dan sasuke sekarang tidak ada hubungan apapun. Kalo tidak salah
dengar dia akan dijodohkan dengan Sugetsu makanya dia dipindahkan sekolah ke
sekolah Sugetsu di Suna"
Tenten berbicara panjang
"Wah.. Kau mengorek
informasi sangat detail, cocok jadi prisenter gosip Tenten chan"
Kiba memberi dukungan untuk
masa
depan Tenten.
xXx
*Flashback
1 tahun yang lalu
"Sasuke-kun aku
mencintaimu"
Karin menyatakan
perasaannya di kelas Sasuke.
"Hn"
Sasuke menerimanya, Karin
menghambur memeluk Sasuke. Namun ketika pulang bersama Karin, Naruto dan Gaara.
Sasuke mengubah pernyataannya yang sangat konyol bagi teman-temannya.
sambil menuju tempat
parkir.
"Tidak jadi"
"Teme apanya yang
tidak jadi"
"Bukan untuk mu
Naruto"
Gaara menjelaskan, Naruto
dan Gaara berjalan dibelakang, pernyataan itu untuk Karin.
"Apa maksud mu
Sasuke-kun?"
Karin ingin memastikan
"Ku rasa kau jenius,
pasti sudah mengerti"
Sasuke masuk ke mobilnya.
Gadis berambut merah itu terdiam sebentar, kemudian menangis berlalu
meninggalkan Naruto yang terbengong, dan Gaara yang menanggapinya dengan
santai.
"Hey jelaskanlah
mereka kenapa? Baru jadian beberapa jam Karin sudah menangis!.."
"Kau memang Dobe
Naruto sudah jelas Sasuke tidak menyukai Karin, dia hanya kasian jika karin
dipermalukan ketika dia menolaknya, jadi sekarang Sasuke mencabut
kata-katanya”
Naruto garuk-garuk kepala 'jadi
apa hubungan mereka sekarang!'
"Tidak ada hubungan apa-apa"
Seperti bisa membaca
pikiran lawan bicaranya.
xXx
Lapangan
Basket
Tempat duduk pengunjung
tidak begitu ramai sebab ini hanya sekedar latihan untuk kejuaraan nanti.
Hinata memilih tempat duduk
yang ia rasa nyman, untuk melihat seseorang disana yang bermain.
"Apa yang kau lakukan
disini, ini tempat duduk ku, minggir!!"
Dengan nada judesnya.
"Gomen, aku tidak
tau"
'inikan kursi pengunjung duduk dimana saja
bolehkan?? Heloo!!!'
Hinata kesal namun tak ingin
berurusan dengan mereka.
"Menyingkirlah"
Ino tidak suka dengan ,Hinata apa lagi setelah kejadian di gerbang sekolah
tadi pagi yang membuat sahabatnya Sakura menangis. Jadi selama ini yang
menyukai Sasuke adalah Sakura.
Hinata mengambil tempat
duduk agak jauh dari mereka, Tenten mendapat giliran piket perpus, sedangkan
Kiba entah kemana dia bersama Shino maniak serangga. Hinata hanya ingin
menonton kakak kelas idolanya
Toneri bermain basket.
Toneri terlihat begitu keren ketika melakukan shoot yang tak pernah meleset.
Yah meskipun Neji-nii juga ikut bermain di antara mereka, Hinata ,hanya melihat
Toneri, karena tadi pagi Neji meninggalkannya karena terlambat sungguh tragis
nasipnya tadi pagi.
Etts.. jangan kira hanya
kakak kelas karena tim mereka adalah gabungan antar kelas Sasuke juga ada disana
dia menjadi ace karena bakatnya, Naruto, Gaara.
Sai dan Sikamaru duduk di
bangku cadangan, karena ini hanya latihan, setelah istirahat Hinata membawakan
air dan handuk kecil untuk Toneri, Hinata berjalan kearah Toneri. Sakura juga
membawakan handuk kecil dan air mineral, iya memberikannya seraya tersenyum untuk Sasuke.
"Sasu.."
Posisi Sakura dibelakang
Sasuke, baru saja iya memanggil namun Sasuke sudah berlari kearah Hinata dan menyerobot
mengambil air minuman yang disiapkannya untuk Toneri.
"Sankyuu.. Hime"
Mengusap lembut rambut indigo
itu dan membawa Hinata ke bangku taman sekolah yang bersebrangan dengan kantin.
"Hey itu, bu.. ??"
Gluk
Gluk Gluk..
Air itu sudah habis..
"Hn?"
2 konsonan itu mengartikan 'ya?' siapa lagi kalau bukan Sasuke yang
mengatakannya. Hinata terdiam matanya berkaca-kaca..
"Hiks Hiks "
Hinata menangis
"Hey Hey.. Jangan
menangis, nanti ku belikan es krim deh!!"
Sasuke gelabakan.
"Huaaaa... "
Hinata semakin menangis
"Cup..cup..cuppp..
ok,ok jangan nangis ayolah, aku hanya bercanda!"
"Kau..kau...merusak
semuanya,, hiks' kau menghilangkan kesempatan ku hiks, dia tak akan melihat ku
hiks hiks"
Sasuke mengangkat dagu
Hinata dan menghapus jejak air matanya.
"Maafkan aku"
Sasuke memeluknya, melirik laki-laki
yang baru saja datang dan duduk dikursi
itu..
"Menangislah tak apa,
pukullah aku."
Ternyata pria yang duduk di
kursi dekat mereka berdiri itu Toneri yang habis dari kantin membeli minuman..
Sasuke memincingkan matanya menatap tak suka dengan Toneri, tak lupa ia eratkan
pelukannya, menegaskan Hinata adalah miliknya.
"?? Ha..maafkan aku,
aku akan pergi!.. Dan ,anggap saja aku tak melihat kalian, jaa.. "
Toneri berjalan cepat
meninggalkan mereka, ditaman sekolah yang baru saja menghentikan aktivitas
berpelukannya.. Hinata yang mendengar suara yang familiar itu tiba-tiba
mendorong Sasuke, namun yang ia lihat adalah Toneri yang sudah menjauh.
" To ..To Toneri-senpai,,,,
kyaaa... Kau jahat Sasuke-kun"
Memukul-mukul Sasuke yang
tertawa terpingkal-pingkal, rencananya berhasil satu rival telah tersingkirkan.
xXx
Di
Kelas
Ino dan Sakura mengumpulkan
hampir semua teman-teman.
"Aku ingin kalian tau
sesuatu, Sakura sudah lama menyukai Sasuke, karena Sasuke sangat mirip dengan
mantan tunangannya Izuna, sepupu Sasuke yang sudah meninggal"
Ino memulai..
"Sebenarnya aku tak
mau mengingat kejadian itu lagi hiks, aku sangat mencintai Izuna..tapi Hinatalah
yang memuat Izuna meninggal hiks hiks"
Air mata Sakura sudah tak
terbendung..
"Memang apa yang sudah
Hinata lakukan?"
Beberapa dari mereka
bertanya, penasaran.
"Hinata yang
membunuhnya, itu semua rencana Hinata menjebak Izuna dihari pertunangannya
hingga Izuna tewas"
Ino mengambil alih.
"Aku juga tak
menyangka Hinata hiks sekejam itu, dia selalu iri dengan ku, sekarang dia juga
ingin merebut Sasuke dari ku. Setelah aku membuka hati untuk Sasuke hiks"
Air matanya semakin
mengalir.
"Aku sungguh tak
menyangka Hinata sejahat itu. Dulu Izuna sekarang Sasuke,, kita harus
memberinya pelajaran"
Tayuya menyimpulkan.
xXx
Dibelakang Sekolah Shion
mengajak Hinata mengintip seseorang dibalik pohon..
Shion sudah tau kejadian
ditaman sekolah tentang Hinata dan Sasuke yang errrr...berpelukan, karena
posisi kantin yang bersebrangan dengan bangku taman sekolah sangat mudah
melihat mereka dibalik kaca.
"Aku hanya ingin
mengatakan sesuatu Hinata-chan"
"Mengatakan apa
Shion-chan?"
"Kau tau tentang orang
yang ku suka, umm..jangan salah paham dulu Hinata. Dulu aku memang menyukai
Sasuke, tapi sekarang aku mempunyai idola baru"
Shion menunjuk seseorang
yang tengah berjalan dengan headpone yang bertengger manis di telinga seorang
pemuda, sepertinya dia sangat suka musik.
"Pria itu.."
Shion memastikan Hinata
tidak salah lihat.
"Itu.. pria berambut
kuning jabrik itu"
Hinata memastikan
"Ya, namanya Uzumaki
Naruto.. Baru-baru ini kami tak sengaja bertemu, ayahnya adalah partner bisnis
ayah ku"
"Kamu sungguh cepat
sekali melupakan seseorang yang kamu suka Shion-chan"
Hinata merasa aneh,
bukankah baru kemarin dia bilang suka sama Sasuke..
"Hehe..aku
sungguh-sungguh Hinata-chan.. Aku benar-benar menyukainya, aku akan berusaha,
dukung aku ya,,Hinata-chan"
Shion bersemangat.
"Aku selalu mendukung
mu"
Hinata tersenyum manis. Mereka
kembali ke kelas, tapi di perjalanan Shion dipanggil guru Iruka yang tidak bisa
masuk karena istrinya melahirkan jadi hanya menitipkan tugas untuk para murid
kepada Shion. Hinata sendirian masuk kelas.
Puk Puk ..
Hinata dilempari bekas minuman
susu kotak para murid..
Puk Puk Puk..
Lemparan itu semakin banyak..
"Dasar pembunuh,"
"Perempuan licik,
kenapa tidak kepenjara saja"
"Pembunuh mati saja"
Puk Puk,,
Dan..
BUKKk
Lemparan teraakhir itu seperti
menyakitkan tapi Hinata tak merasakan apa-apa..
Seseorang yang baru saja datang
melindunginya, ya Sasuke menghalangi minuman kaleng yang penuh itu.
"Aaa.. Itaii"
Sasuke mengeluh, tangan
kanannya memar sedikit berdarah.
"Sa..Sasuke-kun..
semuanya hentikan"
Sakura berlari kearah sasuke memegang tangan
Sasuke
"Daijobu Sasuke-kun,,
kita harus ke UKS tangan mu berdarah"
Hinata hendak pergi,
matanya berkaca-kaca, dia tau maksud kata 'pembunuh'
yang ditunjukkan padanya, namun Sasuke mencengkram erat tangannya, apa yang bisa
ia lakukan..
"Jadi kau yang
melakukannya..kau sadar apa yang kau lakukan? HAH"
Sasuke sedikit berteriak
dan menepis tangan Sakura.
"Aku..ak hiks hiks aku
hanya.."
"HANYA APA? Dengar kalian
semuanya.. Apa yang kalian maksud pembunuh itu tidak benar, jangan asal bicara,
karena aku bisa menuntut kalian. Siapapun yang menyakiti Hinata akan berurusan
dengan ku, dan kau Sakura,,aku kecewa pada mu, aku tak akan mengatakan yang
sebenarnya tentang kau dan dia karena aku sungguh kasihan padamu"
Dia yang dimaksud Sasuke
adalah Izuna
*Flashback
Haruno Mebuki ibu sakura telah berjasa mendonorkan hatinya untuk
ibu Izuna. Dan untuk membalas jasanya, Tobi ayah dari Izuna memutuskan untuk
menjodohkan anaknya dengan Sakura anak dari si pendonor yang baik hati.
"Tou-san apa maksudnya ini? Perjodohan dengan Sakura, aku
tidak mau, Tou-san aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai, dia Hyuga
Hinata"
"Izuna jangan membantah besok adalah pertunangan kalian,
aku tidak menerima penolakan"
Tobi berlalu meninggalkan Izuna..
xXx
Di Hari
Pertunangan
"Apa kalian sudah membereskan gadis itu"
"Ya,, kami telah menyekapnya, di tempat rahasia. Bos kami
sedang menuju kesana entah apa yang akan terjadi dengan gadis itu"
"Aku tak peduli, ini bayaran kalian"
Tobi memberikan koper berisi uang kepada mereka. Izuna mendengarnya,
dia yakin gadis yang dimaksud ayahnya itu adalah Hinata. Izuna berlari menuju
mobil, tak mempedulikan orang-orang yang ia tabrak, ya.. ini hari pertunangannya
dia harus cepat kebagasi mengambil mobil dan kabur secepatnya.
Tato yang sempat ia lihat tadi adalah geng Laughing Kill dia tau
markas mereka.
xXx
Sebuah gudang yang dijaga 2 orang pria bertubuh besar Izuna
menghajar mereka, meski ia berlumuran darah dia tetap berusaha membuka pintu
itu dan menemukan Hinata terikat dan tak sadarkan diri.
Seorang laki-laki memegang
balok kayu yang besar..dia Zabuza bos dari Laughing Kill.
"Ow.. hero sang penyelamat"
"Lepaskan dia"
Izuna sangat marah langsung
menghajar Zabuza dengan brutal. Zabuza balas menghantam Izuna yang sudah babak
belur karena perkelahian pertamanya barusan. Izuna tersungkur dengan bersimbah
darah.
"Hey hero,, lihatlah
sang putri sudah sadar"
Zabuza mengambil balok kayu,
mengayunkannya tepat didepan Hinata.
“TIDAKKKKK"
Izuna bangkit menghalangi balok
kayu itu dengan punggungnya.
"Hime..."
Izuna tumbang menimpa
Hinata.
"Tubuhnya berlumuran
darah. Hinata melihatnya, Izuna tersenyum. Tersenyum untuk terakhir kalinya.
Hinata berteriak keras. Zabuza memberi kode anak buahnya untuk memukuli Izuna
yang sudah sekarat. Hinata berusaha terlepas dari ikatan.
"Hentikan, ku mohon
jangan memukulinya lagi, pukul saja aku, bunuh aku, aku yang kalian inginkan,
bunuh aku"
"Lepaskan
ikatannya"
Hinata memeluk Izuna.
"Kita akan mati
bersama "
Hinata memejamkan matanya.
"Pertunjukan selesai,
bunuh mereka"
Zabuza menyuruh anak
buahnya.
Brukk Brukk
Pukulan-pukulan itu berhasil
mengenai Hinata.
BRAKKKK
Pintu markas terbuka paksa,
seseorang, tidak tapi sekelompok pria, menghajar para Laughing Kill, dan seseorng
laki-laki berambut reven menghajar Zabuza dengan bringasnya. Laughing Kill
kalah, Zabuza lari.
"Teme kau
membiarkannya kabur??"
"Tenanglah Dobe Itachi
sudah mengepung mereka"
Itachi adalah komandan
polisi termuda. Pria berambut reven itu segera menggendong Hinata yang tak
sadarkan diri dengan darah mengalir dimulutnya dan
kepalanya.
“Oi.. denyut Izuna sudah
tidak ada"
Sikamaru memeriksa denyut
nadi Izuna.
xXx
Setelah Izuna sampai di
markas Loughing Kill, dia menelpon teman-temannya, untuk datang dan menelpon polisi.
Hinata dilarikan kerumah
sakit. Hyuga Hiashi, yang diberi tau Hinata diculik dan sekarang koma segera pulang
dari Amerika ke Jepang. Hyuga Hitomi menangis, Neji mencengkram kerah Sasuke
hendak memukulnya.
"Dengarkan aku, jika
sesuatu terjadi padanya aku akan membunuhmu"
Neji tak kuasa menahan
emosinya, dia tau Sasukelah yang menyelamatkan Hinata, Itaci yang
menceritakannya kepadanya barusan. Neji sekarang mondar mandir. Hyuuga Hiashi datang..
Memeluk istrinya yang menangis histeris, Hiashi melihat Hinata dibalik kaca yang
sedang terbaring dengan dokter diseklilingnya sedang mempacu detak jantungnya.
Sasuke tertuntuk lemas...
'kumohon berjuanglah Hinata'
Di
Tempat Lain
Tobi menyesali
perbuatannya, anak satu-satunya Izuna sudah tidak ada, Sakura datang
kepemakaman menangis sejadi-jadinya,mdia memang menyukai Izuna sejak pertemuan
pertama mereka.
Tiba-tiba polisi datang
memborgol tangan Tobi.
"Anda kami tahan,
karena anda adalah dalang pembunuhan berencana"
Tobi pasrah, Izuna sudah
tiada, hari ini Tobi menghadiri 2 pemakaman, Izuna dan istrinya. Ia sadar yang
ia lakukan adalah keegoisan. Hari ini dia kehilangan 2 orang berharga dalam
hidupnya.
xXx
Di
Rumah Sakit Konoha
Detak jantung Hinata
kembali, dia sudah melewati masa keritisnya. Semuanya merasa lega. Hyuga Hiashi
menghampiri Sasuke.
"Kau?"
"Saya Uciha
Sasuke"
Hiashi benci ketika Sasuke
bilang marganya adalah Uchiha, karena yang menculik anaknya adalah klan mereka,
namun orang ini menyelamatkan anaknya, jika saja ia terlambat, mungkin Hinata
sudah.. Hiashi mengangkat sebelah tangannya, Sasuke bersiap untuk kemungkinan
Hiashi akan menamparnya.
"Terimakasih"
Hiashi memeluk putra Fugaku
itu.
"Kau telah menyelamatkan
putri ku, berapa yang kau inginkan sebagai imbalan"
Hiashi to the point.
'apa semua orang hanya memikirkan uang,hn?'
Itulah dibenak Sasuke
"Aku tak menginginkan
uang"
Menjeda sedikit, kemudian
melanjutkan.
"Aku ingin,,.. Berada
di sisi Hinata untuk melindunginya, tolong..biarkan aku
menjaganya"
menjaganya"
"Hahh.. Kau fikir aku
akan merestui mu, kau masih SMA kelas 1 berani sekali kau Uciha"
"Aku..
bersungguh-sungguh.."
Hiasi telah
meninggalkannya.
Besoknya dikantor Hiashi
kedatangan tamu.
"Silahkan duduk, ada
apa Fugaku"
"Aku ingin melamarkan
anak mu untuk anakku"
"Siapa nama anak
mu?"
"Sasuke, Sasuke
Uciha"
"Aku tidak akan
menikahkan anakku untuk urusan bisnis Fugaku Uciha"
Hiashi menegaskan
"Bagaimana jika mereka
saling mencintai kelak. Baiklah aku tak perlu jawaban sekarang" "Kau
teman ku sudah sejak kecil Fugaku, bukan apa-apa aku hanya ingin kebahagiaan
putri ku"
"Aku tau, bagaimana
jika kita melihat perkembangan hubungan mereka"
"Baiklah, jika Sasuke
bisa membuatnya memilihnya, aku akan merestui hubungan mereka. Untuk sementara
jangan katakan pada Sasuke aku menerimanya, aku hanya memberinya
kesempatan"
Fugaku tersenyum, 'dia tak berubah' tetap tegas seperti
dulu. Yah mau bagaimana lagi dia tak memiliki anak perempuan, mungkin dia juga
seperti itu jika memiliki anak perempuan.
"Baiklah kita
sepakat"
xXx
Seminggu sudah Hinata di
Rumah Sakit, sekarang dia sudah diperbolehkan pulang.
"Kaa-san dimana
Izuna-kun, kenapa dia tak menjenguk ku?"
"Hinata.."
Hitomi memeluk Hinata.
"Izuna..Izuna sudah
tiada Hinata"
"Izuna-kun hiks hiks,
Okaa-san,"
Disinilah Hinata sekarang
di pemakaman Izuna, dengan didampingi 2 bodyguard.
"Kau Pembunuh.."
Seseorang disana berteriak
menghampirinya.
"Pembunuh.."
Sakura berteriak, tanganya sudah
melayang ingin menampar Hinata. Namun bodyguard Hinata dengan sigap menangkap
tangan Sakura, dan menguncinya kebelakang.
"Lepaskan aku, Kau
Pembunuh Hinata,,Kembalikan Izuna ku"
Sakura memberontak..
"Cepat bawa Hime
kembali ke mobil"
Kakashi memberi perintah
kepada Yamato dan dibalas anggukan.
*Flashback
Off
xXx
Hari ini Hinata menjalani
aktivitas seperti biasa, kesekolah seperti biasa.
"Ne Shion-chan,, coba
lihat rambut sasuke,, kayak pantat itik phfft"
Hinata berbisik-bisik kepada
Shion
"Bukan Hinata-chan itu
mirip pantat ayam"
Shion dengan wajah
polosnya.. Hinata tak sanggup menahan tawanya,, jika kemarin Sasuke tertawa terpingkal-pingkal
kali ini Hinata tertawa sambil menunjuk rambut Sasuke.
Posisi Hinata dibelakang Sasuke. Sasuke yang merasa
ditertawakan berbalik, dan tak sengaja tangan Hinata mencolok mata Sasuke.
"Aw.. Arrgg sakit
sekali"
Sasuke menutup matanya, mengerang
kesakitan.
"Sasu..hey jangan
bercanda ini tidak lucu"
Hinata bingung, cemas, dan
gengsi untuk peduli..
"Hinata-chan Sasuke
benar-benar kesakitan"
Shion menjelaskan.
"Sasuke,, yahh gimana
nih!! Gomen,, aduhh.."
Hinata panic
"Hinata-chan coba periksa
mata Sasuke"
"Aku"
Menunjuk dirinya,,
"Tap.. Tapi.."
"Arrgh Perihh"
Sasuke kesakitan. Hinata mendekati
Sasuke memegang tangan Sasuke yang menutupi matanya.
"Aku.. Biarkan aku
melihat matamu"
Ujarnya, hendak memeriksa,
apa segitu parahkah?
Sasuke menurunkan
tangannya, matanya masih terpejam, Sasuke membuka pelan matanya.
'Cup'
Ciuman singkat dari Sasuke
membuat Hinata tak berkutik, Tangan Hinata menyentuh bibirnya, kemudian
mencubit pipi Sasuke.
“Aww..”
"Ini bukan mimpi!,
Kyaaaaaa.. ciuman pertamaku hiks hiks"
Hinata mendorong Sasuke,
menangis tersendu-sendu Sasuke berusaha menenangkan Hinata. Berapa kali maaf
pun tak bisa mengembalikan keperawanan bibirnya.
"Hiks hiks,, jangan
mendekat"
Menunjuk Sasuke..
"Hinata gomen,, aku
tidak tau itu ciuman pertamamu."
"Diammm.. Kau telah
mengambil keperawanan bibir ku hiks hiks, bibir ku su..sudah..hiks'hiks"
"Aku akan bertanggung
jawab, berhentilah menangis, ayolah.."
"Aku..hiks ingin
ciuman pertama ku hanya untuk suami ku kelak hiks"
"Aku akan jadi suami mu
kelak, berhentilah menangis"
Sasuke tersenyum geje..
Ternyata mudah sekali
membodohi Hinata dengan mengiming-imingi Tenten kalo ciuman itu bisa
menghilangkan keperawanan,, sungguh ironis. Dugaan Sasuke tepat, Tenten memberitahu
Hinata. Dan Yappa, Hinata minta Sasuke bertanggung jawab, kenapa tidak..
xXx
Di
Kantin
"Jadi kau akan menikah
dengan Sasuke?"
Tenten bertanya
"Ya, dia telah hiks
mengambil keperawanan ku.."
"Uwappa"
Kiba hampir tak percaya,
makanannya sampe menyembur.
"Bagaimana
bisa??"
Kiba bertanya _
penasaran.
"Karena Sasuke
mengambil ciuman pertama ku, Tenten bilang keperawanan Hilang kalo ciuman"
"Phfft
mwhahahaha"
Kiba tak percaya Tenten
mengatakan itu pada Hinata
"Hehe.. Sasuke yang
memberitau ku"
Ujar Tenten"
Kalian begitu bodoh, bukan
seperti itu, kalian sungguh.. Hahaha.. aw perut ku sakit, aduhh aku akan pergi
ke toilet sebentar"
Kiba berlalu, meninggalkan
Hinata dengan tandatanya, jadi ini rencana Sasuke..
"Sasuke
Bakaaaaaa!!"
Hinata berteriak keras. Sasuke
yang berada di atap sekolah langsung cegukan..
xXx
Pulang
Sekolah
Sasuke mengajak hinata
pulang bersama.
"Anata ayo kita
pulang" dengan senyuman yang mampu membuat para wanita fall in love.
"Anata??.. "
Hinata menengok kanan
kirinya banyak wanita melengo.. Dia menanggapinya dengan santai berlalu melewati
Sasuke.
'Baka yang ku maksud kau!!'
Sasuke kesal. Sakura yang melihat
itu tak suka, langsung pergi.
xXx
Di
Gerbang Sekolah
"Ne Hinata-chan aku
pulang duluan, apa tidak apa-apa"
Jemputan Shion sudah
datang.
"Tidak apa-apa Shion-chan,
Neji nii sebentar lagi juga datang, mungkin dia sudah di parkiran"
Hinata menunggu didepan gerbang.
Sasuke mengawasinya, tetapi tas sasuke dijambret.
"Hey kau,, akkhh kusso!!
"
Sasuke berlari mengejar
orang yang menjambret tasnya. Hinata masih menunggu sembari melihat jam
beberapa kali.
"Neji-nii kenapa tidak
keluar-keluar sih!!" Hinata mulai gelisah. Ditempat lain Neji sedang
dihajar beberapa pria matanya ditutup.
"Cukup saatnya kita
pergi!!"
Membiarkan Neji yang
bersimbah darah akibat pukulan-pukulan keras yang mampu mematahkan tulang itu.
"Hi- na -ta.."
Neji mengkhawatirkan
Hinata, berusaha bangkit dengan kekuatannya yang tersisa.
Dreet Dreet Dreet
Suara ponsel Hinata
berbunyi, dari Kusso Sasuke.
"Kusso Sas.."
"Apa ini Hinata
Hyuuga"
"Maaf, sepertinya kau
bukan Sasuke?"
"Sasuke sedang bersama
ku, jika kau ingin dia selamat datanglah kemari sendiri, aku akan mengirimkan
alamatnya, tapi jika kau datang bersama orang lain dia akan ku bunuh.."
tutt tutt tutt..
Sambungan terputus. Hinata
segera berlari mencari taksi untuk menuju tempat Sasuke diculik.
"Sasuke aku tak mau
sesuatu terjadi padamu"
Ya Hinata takut kejadian
lama terjadi lagi. Hinata mengambil kayu sebelum masuk ke tempat itu, sebuah
bangunan tua yang besar..
Hinata mengambil kayu yang
tergeletak dilantai, sambil mengamati bangunan besar tua, sebelum akhirnya
masuk. Langkah kakinya begitu berhati-hati. Dengan memegang erat kayu yang akan
menjadi senjata perlawanannya.
'Sasuke kau dimana'
pikirnya,
Hinata begitu khawatir. Sosok
laki-laki berambut merah menyeringai. Melihat CCTV
"Akhirnya kau datang
sendiri Hime"
Hinata masih berjalan
memegang kayu ,semakin erat, takut. Merasa seperti diawasi. Grepp
"Hampp"
Hinata dibius. Sekilas dia
bisa melihat seulet rambut kuning panjang, dan dia tak sadarkan diri lagi.
xXx
"Hahh..Hahh..Hahh,"
Sasuke terengah-engah, dia
kehilangan jejak sipencuri karena pencuri itu naik motor bersama temannya.
Sasuke kemudian kembali ke sekolah mengambil mobilnya. Dia melihat Neji yang
babak belur.
"Neji??"
Sasuke langsung
menghampirinya
"Apa yang terjadi?"
"Hina..ta, Hinata
dalam bahaya, ukhuk"
Mulut Neji mengeluarkan
darah
"Jangan
mengkhawatirkan aku, cepat cari Hinata, kumohon selamatkan dia"
Sasuke menelpon seseorang.
"Kau tunggulah disini
teman-temanku akan datang membawamu ke Rumah Sakit"
‘Apa ini ada hubungannya dengan penjambret
tadi? kusso!! Aku masuk _&jebakan mereka'
Sasuke mengacak-ngacak
rambutnya frustasi. Mencari telpon umum dan menelpon Hinata. Panggilan
terjawab.
"Hinata kau baik-baik
saja?"
"Hinata bersama ku,
jika kau ingin menemuinya datanglah 1 jam lagi ke alamat yang ku sebutkan,
ingat jangan membawa siapapun kau harus datang sendiri"
"Aku ingin mendengar
suaranya!!"
Sasuke ingin memastikan,
dia sangat frustasi.
"Baiklah.."
Penutup mulut Hinata di
lepas.
"Sasuke jangan
kesini"
Hinata berteriak. Pria
berwajah seram itu kembali menutup mulut Hinata.
tutt tutt tutt
Sambungan diputus sepihak.
“Argggghhhhh"
Sasuke berteriak frustasi,
1 jam lagi, entah apa yang akan terjadi pada Hinatanya. Sasuke melaju mobilnya
dengan kecepatan tinggi. Tiba di alamat tujuan, Sasuke bergegas masuk. Tempat
ini, sangat bau alkohol, memasuki tempat itu. Sasuke melihat Hinata terkulai
lemas di pangkuan seorang laki-laki berambut merah. Bajunya sedikit terbuka ,dibagian
kerah, laki-laki itu mencium wangi lavender dari tubuh Hinata.
"Kau.. Bajingan"
Sasuke tak bisa menahan emosinya.
Dia ingin menghajar pria itu. Namun para pria bertubuh besar menghalanginya. Sasuke
menghajar mereka dengan bringas, tapi salah satu dari mereka mengambil tongkat
bruk bruk bruk..
Sasuke kena telak oleh
pukulan-pukulan itu. Sasuke berusaha bangkit meski sangat menyakitkan.
"HINATAAa..HINATA.."
Panggilnya..
Bruk Bruk Bruk
Pukulan itu semakin banyak.
Bayangan Hinata mulai memburam
"Hi..Na..TA.."
Sasuke diseret keluar
dengan darah yang mengotori lantai. Sakura datang, melihat kondisi Sasuke yang
parah,
"Sasukeee..."
Sakura berteriak marah..
Sasuke berada dipangkuannya dengan berlumur darah, Sakura segera masuk kedalam.
Sakura hendak menampar Sasori, tetapi di tangkap Sasori lebih dulu.
" Kau licik"
"Bukankah kau
sama!"
Sasori membalas kemudian
melanjutkan
"Kau sendiri yang
bilang aku mendapatkan Hinata, dan kau mendapatkan Sasuke, bukankah ini yang
kau inginkan?"
"Tapi kesepakatan kita
kau tak akan menyakiti Sasuke??"
Sakura melirik Hinata, yang
terkulai lemas di sofa, berlari kearah Hinata mengguncang tubuhnya.
"Hinata sadarlah
Hinata, kumohon!!"
"Kalian usir wanita
ini keluar, Sekarang!!"
Ujar Sasori menunjuk
Sakura. Sakura memberontak
"Lepaskan,, HINATA..
HINATAAA.. Akhh"
Rambut sakura dijambak
"DIAMM.."
Kata salah satu dari mereka
yang berwajah seram, dia Kisame. Sakura didorong hingga jatuh kelantai, dia masih
melihat Sasuke yang juga tak berdaya.. Sakura berusaha membawa sasuke ke
mobilnya untuk membawanya ke Rumah Sakit.
Pria berambut putih datang,
membawa beberapa bodyguards menghajar Sasori, dan membawa Hinata dari sana.
"Sasuke sekarang aku
tau cintamu hanya untuknya. Aku akan menyerah"
Berbicara kepada Sasuke yang
terbaring di Rumah Sakit. Itachi dan Mikoto datang, Sakura pamit pergi.
"Apa yang
terjadi"
Itachi mencegat Sakura
pergi.
"Hinata.. Hinata dalam
bahaya.. Kumohon tolonglah dia"
Itachi segera pergi menuju
alamat yang diberi Sakura, dengan beberapa anggota polisi. Sasori berhasil
lolos dengan Heli diatas gedung yang sudah dipersiapkannya. Itachi tak
menemukan Hinata. Dia juga tak melihat Sasori membawa Hinata. Beberapa pengawal
Sasori berhasil di tangkap.
Sasuke sadar,
mengerjap-ngerjapkan matanya, seluruh badannya terasa remuk.
"Hinata, Kaa-san
dimana Hinata"
Sasuke langsunng bangun.
Pintu terbuka, menghadirkan
Itachi dan Sakura disana.
"Maafkan aku,, maafkan
aku Sasuke hiks hiks"
Sakura tulus meninta maaf.
"Itaci-nii dimana
Hinata??"
Sasuke geram pertanyaannya
tak mendapat jawaban.
"Hinata, tak
ditemukan, maafkan aku Sasuke"
Itachi menunduk, raut
wajahnya memancarkan penyesalan, atas kegagalannya.
"Aaaa... Aaaa
ARGGGGG"
Sasuke berteriak menjambak rambutnya,
menangis.. Melepas infus ditangannya. Berlari tak tentu arah, dengan sesekali
memegang kepalanya,, Mikoto memanggil dokter, Itaci menghalanginya.
"Minggir.. Jangan
halangi aku"
Namun penglihatannya
semakin buram dan greep, dia hampir
ambruk.. Itaci segera membawanya kembali.
xXx
Hiashi sudah mengirim 20
detektif FBI untuk mencari Hinata.
"Hinata.."
Lirih Hitomi, siapa yang
tidak cemas jika anak satu-satunya diculik.
Krrringg..Krrrringgg
Suara telpon rumah
berdering. Hiashi mengangkat telpon, ternyata dari Ootsuki Corp.
"Hinata sudah ditemukan"
Hiashi begitu bahagia. Hitomi
yang mendengar pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, memeluk suaminya.
"Kita harus segera
kesana!"
Hitomi sumringah, Hinata
masih hidup. Rumah yang sangat mewah, lebih besar dari rumah Hinata, nuansa
yang eleggan, ini seperti kerajaan.
"Kaguya sama"
Hiashi membungkuk hormat. Kaguya
adalah atasan Hiashi. Perusahaan di Amerika juga cabang dari Ootsuki corp. Hinata
yang melihat orang tuanya segera memeluk mereka
"Kaa-san,
Tou-san.."
Mata Hiashi tak luput dari
sosok pemuda berambut puth.
"Silahkan duduk,
perkenalkan ini putraku. Toneri Ootsuki"
"Toneri Ootsuki"
Toneri memberi hormat
dengan membungkuk.
"Toneri lah yang
menyelamatkan Hinata-chan"
Kaguya menjelaskan
*Flashback
"Presdir Akasuna Corp
meminta tambahan uang lagi untuk pembangunan baru diSuna "
"Lagi!! Bukankah
kemarin sudah dikirimkan uang, ku rasa uang itu bahkan berlebihan. Karena
Ootsuki Corp adalah donatur terbesar.
Kaguya mulai curiga dengan
perusahaan yang dipimpin oleh Akasuna. Beberapa minggu terakhir dia sudah
mengirim uang yang terbilang sangat banyak untuk pembangunan yang baru, bahkan
bisa dikatakan uang yang telah dikirim berlebihan.
" Kankuro-san tolong awasi
pergerakan Akasuna, awasi mereka bahkan anak mereka sekalipun, ku dengar anak
dari akasuna sangat pintar, jangan mengabaikannya meski dia masih pelajar"
“Hai”
xXx
Seseorang menguping, dia
adalah Toneri. Orang-orang Kaguya diluar yang melihat tingkah anak bos mereka
itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Sst.."
Toneri memberi instruksi,
agar mereka tidak berisik. Krek Kankuro
membuka pintu. Dan Toneri jatuh kepalanya menjedot pintu yang baru saja Kankuro
buka.
"Aaa.."
Memegang kepalanya. Kehadiran
Toneri yang tidak elit membuat mata mereka tertuju padanya. Kankuro sedikit
tersenyum, yang nyatanya dalam hati tertawa sangat senang, jarang-jarang dia bisa
membuat Toneri malu, biasanya Toneri yang sering membuat dia malu, dengan mengejeknya
tua, dan tak laku.
Segera Toneri berdiri,
memberi hormat kepada ibunya.
"Saya ingin tugas itu
diberikan kepada saya."
"Kau yakin bisa
melakukannya"
"Ya saya yakin"
Melirik Kankuro yang geram,
'bocah awas kau' tugasnya diambil
Toneri. Meski sering terlihat tak akur, sebenarnya Kankuro menyayangi toneri
sama seperti menyayangi adiknya Gaara. Sudah 10 tahun dia mengabdi di Ootsuki
Corp.
xXx
Tiba di Suna, Toneri
membawa beberapa bodyguards untuk mengawalnya. Sebelumnya dia menyamar, dengan
penampilan remaja pada umumnya, memakai kaos biru, celana jens , dan kacamata, sambil
mengunyah permen karet. Toneri tidak masuk, hanya berjaga diluar. Dan sesuatu
yang dia tunggu terjadi. Sasori keluar terburu-buru membawa sebuah koper besar
entah berisi apa. Beberapa pengawal mengikutinya Sasori mengangkat telpon
masuk.
"Aku segera kesana,
jangan kalian sentuh wanita itu, sehelai rambutnya saja patah akan kuhabisi
kalian"
'wanita
siapa? Protektif sekali dia' Toneri mengikutinya, menghafal plat mobil
yang
mereka pakai. Sebuah klub
malam yang mewah. Kini Toneri sudah mengganti pakaiannya terlihat gagah memakai
jas putih, dan akhirnya masuk bersama bodyguardsnya. Dilantai ada bercak darah,
seperti seseorang baru saja diseret. Matanya kini tertuju pada sosok gadis barambut
indigo yg tak sadarkan diri dipangkuan Sasori. Posisi Sasori sekarang mencium
tangan Hinata lembut.
"Kau hanya milik
ku"
Sasori ingin merapikan kancing
baju Hinata yang terbuka, namun terlihat seperti ingin membuka kancing baju
Hinata..
'Hinata' mata Toneri terbelalak,
gadis itu Hinata.
"BAJINGAN"
Bruk Bruk Bruk..
Toneri tak memberi Sasori
kesempatan memukul. Melihat bos mereka dipukul, pengawal Sasori ingin
membantunya namun dihalangi bodyguard Toneri. Sasori ambruk. Toneri menggendong
membawa Hinata pergi dari tempat itu.
*Flashback
off
"Langsung saja pada
topik utama, aku ingin Hinata menjadi menantuku"
"Apa?"
Ucap Hinata dan Toneri
bersama..
"Ada apa? Bukankah kau
bilang menyukai Hinata?"
Kaguya menunjukkan
pertannyaan kepada Toneri.
"Aku memang
menyukainya, tapi apakah Hinata juga menyukai ku?"
Toneri melihat ke arah
Hinata. Dia tau Hinata sangat dekat dengan Sasuke. Yah..mungkin saja ada
hubungan diantara mereka.
"Apa kau mencintai
Toneri Hinata?" Hiashi memastikan.
"..."
Semuanya melihat kearah Hinata
"Aku..sebenarnya juga
menyukai Toneri-kun tapi.."
"Wah.. kebetulan
sekali, jadi bagaimana Hiashi"
Kaguya memotong perkataan
Hinata, yang ia rasa sudah cukup untuk hal yang perlu ia dengar.
"Apa kau bahagia
Hinata?"
"Aku memang bahagia
Tou-san ta.."
Dan perkataan Hinata tak terselesaikan lagi.
"Baiklah aku menerima
lamaran ini"
Ujar Hiashi
"Resepsi pernikahan
akan dilakukan setelah kelulusan kalian"
Berarti sekitar 1 tahun
lagi. Mengingat Toneri sudah memasuki Ujian akhir Sekolah, dan Hinata kelas 2
'Kau gagal Sasuke..'
Hiashi sedikit sedih.
xXx
Di kamar bernuansa
lavender. Penghuninya merasa gelisah, tak bisa tidur.
"Arrgg"
Mengacak-ngacak rambutnya.
"Kenapa aku tidak bisa
tidur, fokus Hinata fokus, bayangkan saja kau sedang jalan-jalan bersama
Toneri-kun"
Hinata berfikir keras agar
bermimpi bertemu Toneri. Namun beberapa saat kemudian dia benar-benar bangun
dari posisinya.
"Kenapa aku sempat
ragu, ketika bilang aku menyukainya ya? Tapi aku senang ternyata cinta ku tak
bertepuk sebelah tangan"
Kemudian melanjutkan
tidurnya. Hiashi sudah mengatakan perihal Hinata yang akan menikah dengan
keluarga Ootsuki kepada Fugaku.
'Apa yang harus ku katakan pada anak itu'
Fugaku berfikir.
xXx
Pagi ini, Sasuke sekarang
sudah diperbolehkan pulang. Dia selalu bertanya tentang Hinata.
"Aku harus mencari
Hinata"
"Baka otouto,
Hina-chan sudah ditemukan, berhentilah menyiksa diri mu"
"Yokatta..kau yang
menyelamatkannya?"
"Bukan, tapi.. anak
dari Presdir Ootsuki Corp yang terkenal itu"
"Ootsuki,,"
Sasuke mengingat marga itu.
"Kalau tidak salah
namanya Toneri Ootsuki."
Sasuke terdiam tak
mengatakan apapun, Toneri adalah orang yang disukai Hinata.
xXx
Kembali ke mension Hyuga.
Hinata baru saja bangun, melirik jam sudah pukul 07:12 am
"Gawat aku telat"
Bersiap-siap namun ketika
melihat bayangannya dicermin dia berhenti. Matanya sekarang hampir menyerupai mata
Gaara.
"Kyaaaaaaa"
Lingkaran hitam disekitar matanya menandakan
dia tadi malam tidak bisa tidur.
'Semalaman aku mengingatnya, apa yang terjadi
pada ku, Sasuke kusoo!!'
Tok Tok Tok
Hinata membuka pintu
kamarnya.
"Okaa-san"
"Kau sudah bangun, ini
makanlah dulu"
Hitomi membawa nampan
berisi susu dan roti.
"Kaa-san sudah
menelpon kepala sekolah mu, kalau Hinata-chan hari ini tidak sekolah"
"Kaa-san"
Hinata merebahkan kepalanya
di pangkuan Hitomi.
"Ada apa sayang?"
Memusut lembut kepala
Hinata.
"..."
Hinata hanya diam.
"Ceritalah, siapa tau
Kaa-san bisa membantu"
"Kaa-san sebenarnya
akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang pemuda,, um.. Bukan
"Toneri"
Hitomi terperenjat ketika
mendengar bukan Toneri.
"Lalu.."
Ujarnya Hitomi dengan nada
hati-hati
"Dia suka
menggangguku, menghiburku, membuat ku panik, dan sering menolongku, entah
kenapa aku sering teringat padanya.."
"Kau
menyukainya?"
"Aku tak tau, tapi aku
senang berada di sisinya.."
Mengakhiri ceritanya.
"Siapa dia?"
"Dia..kus..um Uciha
Sasuke."
Hampir saja Hinata bilang
kusso Sasuke, untung saja.
Hitomi menarik nafas, dan
melepaskannya, wajahnya terlihat sendu.
"Toneri hari ini ingin
mengajak mu jalan-jalan, Kaa-san akan mengatakan kau sakit jika tidak
mau!"
"Kenapa tidak, Kaa-san aku akan bersiap-siap"
xXx
Ditaman
Kota
"Hinata-chan?"
"Um.."
Mengamati bunga-bunga
"Bagaimana bisa kau
bersama Sasori sampai tak sadarkan diri?"
"Ha?? Etoo aku tidak
tau.. Tapi seseorang menelpon ku dia bilang menculik Sasuke..seseorang membius
ku aku sedikit melihat helayan rambut kuning panjang, terakhir aku berbicara
dengan pria berwajah seram"
Hinata tercekat dia belum
tau keadaan Sasuke, dimana dia.
"Sasuke, aku harus
mencarinya"
Hinata hendak berlalu,
namun tangannya digenggam erat Toneri.
"Dia baik-baik saja. Kau
tak perlu mengkhawatirkannya. Aku dengar dia sudah pulang dari Rumah Sakit,
kita bisa menjenguk ke rumahnya"
"Bolehkah??"
"Ya,tentu"
xXx
Di
Mansion Uciha
"Otouto kau kedatangan
tamu."
"Bilang aku tidak
ada"
Sasuke merasa terpuruk,
beberapa jam terakhir hanya dihabiskan dengan melamun.
"Diluar ada Hinata
da.."
"Keluar"
"..."
"Aku Bilang
Keluar"
"Baiklah.."
"Baiklah.."
Di
Ruang Tamu
"Sasuke sedang tidur,
apakah aku perlu membangunkannya?"
Tutur Itachi bohong.
"Tidak perlu, gomen
sudah merepotkan"
Hinata memberi hormat
kemudian disusul Toneri yang juga membungkuk lalu pergi.
Fugaku memasuki kamar
Sasuke
"Tou-san rasa kau
perlu tau,, jika Toneri Ootsuki akan menikah dengan Hinata. Apa kau akan
menyerah sekarang, hn?"
"..."
"Apapun keputusan mu,
Tou-san akan mendukung mu"
"Kejarlah dia, jangan
sia-siakan usaha mu Okaa-san juga mendukung Sasuke"
Mikoto hadir dibelakang
Fugaku. Sasuke bangkit dari tempat tidurnya.
Dreet ponsel
Hinata berbunyi
'Kau
dimana?'
'Aku
di kafe bersama Toneri-kun'
'Tunggu
aku, aku akan segera kesana'
Toneri melirik Hinata yang
mengotak-atik
ponselnya. Seseorang perempuan
cantik berambut kuning datang menghampiri mereka.
"Toneri-kun, sudah
lama kita tidak bertemu"
Perempuan itu bergelayut
mesra memeluk lengan Toneri.
Perempuan yang diketahui
bernama Anko Mitarashi. Hinata yang melihatnya hanya diam.
"Siapa dia?"
Ujar Anko dengan angkuh,
dan meremehkan
"Dia Hinata Hyuga, perkenalkan
Hinata ini Anko Mitarashi"
Hinata memperkenalkan
dirinya, dan mengajak berjabat tangan, namun tak mendapat sambutan dari Anko.
Posisi Hinata berdiri.
Sasuke datang, dia geram
melihat seseorang perempuan yang bergelayut mesra dengan ,Toneri, dan Hinata
ada disana posisi tangan Hinata yang terangkat dalam keadaan berdiri, Sasuke
mengambil kesimpulan Hinata habis menampar Toneri, Sasuke mengambil tangan
Hinata dan membawanya pergi dari sana.
xXx
"Ini bayaran mu"
Toneri memberi sebuah
amplop berisi uang. Sambil melihat kepergian Hinata bersama Sasuke.
"Ternyata kau tak
cemburu, Hinata"
Berlalu meninggalkan kafe.
xXx
Di
Taman
"Sasuke apa yang kau
lakukan?"
"Melepaskan cengkraman
Sasuke dari tangannya.
"Apa yang ku lakukan,
hah?? Kau pikir aku tega melihat mu diperlakukan seperti tadi?"
"Maksud mu?"
" ?? "
'maksud dia bilang?? Apa yang terjadi
dengan otaknya, biasanya dia marah jika gadis lain mendekati Toneri di sekolah'
"Sudah lah lupakan,
kau mau es krim?"
Ujar Sasuke kemudian.
"Boleh, tapi aku
kesini dengan Tone-kun aku harus kembali ke kafe"
Ujar Hinata sambil berlalu.
Sasuke menarik pasksa Hinata.
"Lepaskan aku
Sasuke-kun!!"
"Lepaskan dia Sasuke.
Kau tak mendengarnya?"
Toneri berada tak jauh dari
mereka.
"CUKUPP"
Hinata berteriak.
Melihat ekspresi Toneri dan
Sasuke, membuat Hinata mengerti 2 pria ini tak kan akur.
"Aku mau pulang"
"Biar ku antar"
Kata mereka berdua secara
bersama.
"Aku bisa
sendiri."
"Tidak "
Ucap mereka bersamaan lagi.
"Aku calon su'a'mi mu,
aku tak kan membiarkan mu pulang sendiri aku takut terjadi sesuatu pada
mu"
Toneri memberi penekanan
pada kata -=suami=-. Toneri menggenggam tangan Hinata membawanya bersamanya. Beberapa
langkah mereka berjalan Sasuke mengambil tangan Hinata yang satunya.
"Hinata pulang dengan
ku"
Hinata melirik keduanya. Mata
Sasuke dan Toneri seperti memancarkan aliran listrik. Terakhir mereka berdesakn
dengan memakai 1 mobil, Sasuke tak peduli walau itu mobil Toneri. Dikursi belakang
ada 3 orang yaitu kiri Toneri, tengah Hinata, dan kanan Sasuke. Supir Toneri
didepan bingung melihat mereka,, namun dia tak ambil pusing, toh tugasnya hanya
menyetir.
Dijalan Hinata ketiduran,
karena tadi malam tak tidur nyenyak akibat Sasuke yang mengusik Hinata seperti
nyamuk. Kepalanya Hinata kini tersandar ke bahu Sasuke, Sasuke tersenyum. Toneri
mengalihkan kepalanya kepundaknya dengan hati-hati.
Tiba-tiba seseorang
berambut merah berlari dan tertabrak. Supir yang mengemudi mengerem mendadak,
kedua pria ini melindungi Hinata agar badannya tak terhempas, Hinata terbangun.
"Apa yang terjadi
Kabuto-san?"
Kata Toneri
"Maafkan saya tuan,
sepertinya saya menabrak seseorang."
Hinata segera keluar dari
mobil, melihat yang terjadi. Pria itu Sasori. Hinata menghampirinya tanpa rasa
takut, dia tak tau jika pria itu pernah menculiknya. Dari jauh terlihat Kankuro
berlari, rupanya dia tadi mengejar Sasori.
"Hinata segera
menjauh!, dia orang yang berbahaya" Sasuke berusaha membawa Hinata
menjauh. Hinata tak tau seberapa bahayanya orang ini, yang jelas yang dia
pikirkan saat ini adalah pria itu harus segera dibawa ke Rumah Sakit.
"Kita harus cepat
membawanya ke Rumah Sakit"
Hinata khawatir. Melihat
usaha Hinata yang ingin menopang tubuh besar Sasori, Sasuke akhirnya
menolongnya
xXx
Di tempat lain Toneri
berbicara serius kepada Kankuro.
"Sebelumnya kita harus
mengobatinya dulu"
Toneri memberi pendapat.
"Baik, saya
mengerti"
Hospital
Konoha
Kepala Sasori diperban,
pakayannya pun berganti menjadi pakaian pasien.
Sasori melihat tidak suka
kearah Toneri.
"Aku ingin penjelasan
mu, kemana uang-uang yang telah dikirim Ootsuki Corp untuk pembangunan
itu?"
"Uang apa? Aku tidak
tau"
"Jangan berlaga bodoh,
aku melihat mu membawa koper besar dihari Hinata diculik"
Menginstruksi.
"Koper itu bukan uang,
aku kabur dari rumah,, "
Ujarnya 'untuk apa aku mengatakan ini,, heh
menyebalkan'
Sasori kabur dari rumah
ayah tirinya yaitu ayah Gaara. Dia pergi menemui ayahnya. Yang sedang bingung,
uang konstruksi yang tak kunjung datang, sedangkan pembangunan akan rugi besar
jika tak membayar uang tunggakan beberapa hari lagi.
"Kita pergi sekarang."
Toneri memberi perintah kepada 2 orang polisi
yang bersamanya, beserta Kankuro. Melihat polisi yang sudah keluar Hinata masuk
kedalam, membawakan apel.
"Kau tidak
apa-apa?"
Katanya Sasori yang melihat
Hinata mengupaskan apel tersenyum. Sasuke tidak masuk, Hinata melarangnya masuk.
Meski sudah dibilang Sasuke bahwa Sasorilah yang menculiknya beberapa hari yang
lalu.
"Kau Sasori Akasuna
benar?, aku ingin bertanya sesuatu pada mu"
Hinata langsung ke topik
pembicaraan.
"Aku akan menjawabnya,
apapun"
Sasori sangat senang bisa
bertemu Hinata lagi.
"Untuk apa kau
menculikku, apakah kau memiliki dendam?"
"Dendam? Hahaha..
Sungguh, kau tak ingat! aku?"
Ada raut kekecewaan disana.
Sasori mengambil sesuatu dibalik sakunya.
"Ingat? Maksud mu
mengingat apa?"
Sasori tersenyum, 'aku Ori
kecilmu dulu' ujarnya dalam hati.
"Bukan apa-apa"
Sasori mengambil air disebelah Hinata. Hinata bingung, hatinya bertanya-tanya,
seperti mengenal pria ini. Namun dia tak bisa mengingatnya. Mata Hinata kini
tertuju pada kalung yang dikenakan Sasori. Bandul itu sama seperti kalungnya
waktu kecil. Kalung pemberian 0Kaa-sannya, dibalik bandul liontin itu tertulis violet. Hinata
menyentuh kalung itu. Didalamnya terdapat fotonya masih kecil, disebelah
fotonya terdapat foto anak laki-laki kecil.
"Kau.."
"Ini aku Hime"
Hinata memeluk Sasori,
menangis dipelukannya.
"Baka.. Baka..
Baka..Ori-kun Baka Hiks hiks"
"Maafkan aku Hime,
sudah membuat mu khawatir, selama 10 tahun"
Brakk..
Sasuke mendobrak pintu. Memisahkan
Hinata dari Sasori. Mencengkram kerah Sasori. Sasori tak melawannya, ujung
bibirnya sedikit tersenyum. Hinata memegang bahu Sasuke, menenangkannya.
"10 tahun yang lalu
dia telah mengorbankan hidupnya untuk ku"
Sasuke terbelalak,
bagaimana bisa si berengsek itu..
"Aku tak menyangka,
aku pikir dia sudah tidak ada..."
Raut Hinata sedih ketika
mengingatnya.
"Tapi sekarang aku
senang dia selamat"
Hinata tersenyum kemudian.
*Flash Back
*Flash Back
Seorang anak kecil berusia
7 tahun dan seorang lagi berusia 8 tahun dilarikan ke Suna.
"Tou-sannn,,
Kaa-sannn"
Hinata berteriak dan
menangis..
"Kau bawa Hinata dan
Neji ke suna cepattt"
Kepada orang yang bernama
Hatake Kakashi
"Baik tuan"
Dor Dor Dor
Suara peluru, mengintai
mereka Hiashi dan Hitomi kembali. Hinata dan Neji diboyong masuk kedalam mobil.
Meninggalkan Tou-san dan Kaa-sannya.
"Apa yang kau inginkan
Pain?"
Saling menodong senjata. Mereka
adalah gangster yang menamai keompok mereka Akatsuki.
"Katakan dimana kau
menyembunyikan emas itu?"
"Aku tidak tau...Kau
ingat aku sudah lama berhenti, jangan mengusik keluargaku."
Ujarnya Hiashi tegas dengan
pemawaan tenang
"Kau Bereng...."
Pain laki-laki itu ingin menembak Hiashi namun
dicegah Konan.. Suara serene mobil polisi berbunyi dari kejauhan.
"Pain, kita harus
pergi sekarang"
"Dengar, aku tak kan
tinggal diam"
Mengarahkan
pistol ke arah Hitomi, Hiashi melihatnya, mencoba menarik dan melindunginya. DORR
Darah mengalir dari tangan
Hiashi. Polisi datang. Rumah Hyuga kini berantakan. Sedikit terlambat membuat
para gangster itu berhasil kabur.
"Kalian tenanglah,
beberapa dari kami telah mengejar mereka. Hiashi, dimana anak-anak?"
Fugaku adalah kepala
polisi. Berteman baik dengan Hiashi sedari kecil. Dia juga tau Hiashi keluar dari
gangster Akatsuki setelah kelahiran anak pertamanya Hyuga Neji. Meski terkejut
awalnya karena profrsinya dulu. Fugaku mengetahui profesi Hiashi setelah dia
keluar dari Akatsuki.
"Mereka bersama
Kakashi, menuju Sunagakue"
"Apa Akatsuki sempat
melihat mereka"
"Kurasa tidak"
"Itu lebih baik, jika
mereka melihatnya, nyawa anak-anak mu dalam bahaya"
xXx
Satu minggu sudah Hinata
dan Neji di Suna, Kakashi membawa mereka ke tempat nenek Chio. Tempat pertemuan
pertama Sasori dan Hinata. Semenjak ayah Sasori dan ibunya bercerai Sasori
memilih tinggal bersama neneknya, Nenek Chio.
"Ori-kun?"
panggilan Sasori kecil
"Hn?"
Sasori merapikan koleksi boneka
kayunya.
"Hari ini aku akan
kembali ke Konoha."
Sasori melepaskan boneka
kayu ditangannya secra tiba-tiba.
"Kau..kau akan
kembali"
Ada raut sedih dan
kekecewaan disana.
"Tutuplah mata mu, dan
jangan mengintip"
Hinata memasangkan kalung
pemberian Kaa-sannya waktu ulang tahunnya yang ke 7th, 1 bulan yang lalu
dibulan December.
"Sekarang bukalah mata
mu"
"Liontin?"
Sebuah liontin bertuliskan violet, didalamnya
terdapat foto Hinata.
"Ya ini kalung
berharga pemberian ,Okaa-san ku, simpanlah.. Nanti jika bertemu lagi kau bisa
mengembalikannya pada ku, um.. Sebagai alasan untuk bertemu mungkin"
Hinata tersenyum. Senyuman
yang teramat manis bagi Sasori. Meski usia mereka sama. Sasori menganggap
Hinata adalah cinta pertamanya.
"Besoknya Kakashi
menjemput mereka. Neji sepertinya tidak suka dengan Sasori. Dia menggenggam
erat tangan Hinata menuju mobil. Hinata terus memandang kebelakang. Sasori mengejarnya,
meski tertinggal jauh.
BRAKKKKKKK, cccCCCreeeEEtttt..
Sebuah truk bsar menabrak
mobil mereka.
"Kakashi tak sadarkan
diri, kepalanya mengeluarkan banyak darah. Sayup-sayup Hinata masih sadar meski
kepalanya berdarah. Neji memeluk Hinata benturan keras membuat Neji tak
sadarkan diri. Pain keluar dari dalam mobil. Melihat Hinata tak mati Pain
menyeretnya. Lokasi kecelakaan adalah jembatan. Pain ingin melempar Hinata ke
dalam air. Belum sempat terjadi Sasori menggigit tangan Pain.
"Bocah sialann!!"
Dengan gampang Pain mendorongnya.
Sasori tersungkur. Namun tak putus asa menyerang Pain, walau serangannya tak berarti
bagi Pain, hingga Pain memberikan satu pukulan di perutnya.
"SASORIII!!"
Hinata histeris..Sasori
kini tak berdaya.
"Aa.. Bagaimana jika
dia yang kuceburkan lebih dulu. Anak manis, lihatlah pahlawan kecilmu.”
"TIDAKKKKKKKK"
Hinata berusaha menggapai..
Kemudian melihat Sasori dibuang
begitu saja, dia tak sadarkan diri.
*Flash
Back Off
"Aku selalu berusaha
hidup normal layaknya gadis lain, setelah kejadian itu"
"Siapa yang
menyelamatkanmu?"
Sasuke sebenarnya tidak
terima Sasori selamat.
"Aku diselamatkan
ayah, nenek yang menceritakannya"
Ujarnya santai. Sasori
sekarang menggenggam tangan Hinata. Sasuke dongkol melihatnya berani-beraninya
dia!!
"Hinata aku
mencintaimu"
" ...?"
"Hinata milik ku, dia
takkan menerima mu."
Sasuke sedikit pede mengungkapkanny
walau ada rasa takut,, takut jika Hinata menerima Sasori.
"Maaf, Sasori, aku
tidak bisa."
"Hn, Aku sudah
menduganya, tak apa-apa"
Sasori tersenum kecut..
Pintu terbuka menampilkan
Toneri baru datang.
"Maafkan aku. Atas
menuduh mu, dan ayahmu yang melakukannya, kalian tak bersalah, Seseorang dari
kami yang telah berkhianat. Sugetsu yang membawa kabur uangnya"
xXx
Disekolah
jam istirahat..
"Hinata, kenapa kau
membawa 2 bento"
Tenten bertanya.
"Aaa.. Apakah itu
untuk ku Nata-chan"
Kiba sumringah.
"Baka.. Ini untuk
kus...o"
"?? Kus..o! "
Kiba bingung..
"Untuk ku
sendiri.."
Lanjutnya lancar.
"Ne Hinata-chan kau
tak takut gemuk?"
Tenten khawatir kepada
sahabatnya yang satu ini. Hinata melirik kanan-kiri
'Dimana kuso Sasuke itu'..
"Ahh..Shion-chan
kemana ya?"
Hinata mendapat sebuah ide.
"Aku tidak tau, dia
tidak bilang kepada kami" Kiba menjawab.
"Aku akan mencari
Shion, jaa.." Hinata pergi.
Tiba-tiba ponsel hinata
berbunyi
"Kau dimana, aku
mencari mu!"
"Aku diatap"
"Baiklah aku akan
segera keatas"
Hinata menutup telponnya.
Di Atap Sekolah
"Ini, ku dengar dari
Ita-nii kau semalam kabur dari rumah, kenapa kau melakukannya? Kaa-san mu
khawatir."
"Aku tidak apa-apa,
aku hanya menginap di rumah Gaara"
"Kau tak bilang apapun
pada orang tua mu, apa itu yang kau sebut acara menginap di rumah teman?"
Sambil menyerahkan bento
buatannya.
"Baiklah aku
kabur"
Mengambil bento buatan
Hinata dan memakan onigiri. Sasuke memang belum sarapan.
"Enak"
"Jangan mengalihkan
pembicaraan”
Hinata memang senang dikatakan masakannya enak,
tapi dia tak bisa melihat Mikoto baa-san mencari kusso Sasuke kerumahnya dengan
khawatir dihujan deras seperti tadi malam.
"Aku Kabur Karena
Kau!!"
Sasuke menaikkan nada
bicaranya.
"Aku??"
"Ya Kau..Hinata, kau
tau aku mencintaimu."
Sasuke memegang bahu
Hinata, menatap mata bulan gadis itu..
"Apa kau
mencintaiku?"
xXx
Di
Taman Sekolah
"Naruto-kun?"
"Ehh? Shion-chan, ada
apa?”
Memberikan amplop kuning
bergambar hati merah. Naruto sedikit bingung, namun kemudian
dia mengerti.
"Apa ini surat
cinta?"
Pertanyaan Naruto sontak
membuat pipi Shion merona.
"Um.."
Shion mengangguk kecil.. Naruto
mengusap pelan kepala Shion, tersenyum padanya.
"Gomen, Shion-chan.
Aku tak bisa. Aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai.”
Naruto menunjuk kursi taman Sekolah. Disana
duduk seorang perempuan. Shion hanya melihat dari belakang, tapi rambut
perempuan yang ditunjuk Naruto berwarna pink.
"Saku..ra?"
Tanyanya, menahan air mata.
Mengeratkan genggaman tangannya,
‘aku __tidak boleh menangis' pikirnya.
"Ya.. Sakura, aku
sudah lama menyukainya, kami baru saja jadian, maafkan aku.." Naruto merasa
tidak enak,, sungguh dia tak bermaksud menyakiti hati perempuan ini.
"Kau tidak
apa-apa?"
Tanya Naruto yang melihat
Shion menunduk.
"Dia tak apa-apa"
Seseorang dibawah pohon yang
terganggu tidurnya, karena mereka,, Shion dan Naruto.
"Kau ?"
"Aku Sasori, murid
pindahan dari Suna. Ayo ,Shion-chan kita berlatih drama lagi, wahh.. Akting mu
sengguh luar biasa."
"Akting??"
Naruto mulai berpikir 'aku tertipu??'
Namun dari jauh Naruto
melihat Sakura yang hendak meninggalkan taman.
"Wahh.. Dia
meninggalkan ku!!, semoga drama kalian sukses"
Dia yang dimaksud adalah Sakura.
Naruto berlari mengejar Sakura yang sudah meninggalkan taman.
"Sakura-channnnnn?"
Hahh Hahh Hahh..
"Dari mana saja, kau
baka? Aku menunggu mu lama sekali!!"
"Aku ada urusan tadi,
gomen.. Gomen ne Sakura-chan ne ne ne.."
Naruto mengedipkan mata 3
kali sambil bersuara manja, membuat Sakura tersenyum. "Berhentilah,
seperti itu.. Ya, aku memaafkanmu"
Naruto memeluk Sakura.
"Terimakasih"
dengan cengiran khasnya.
xXx
Kembali ke tempat Shion dan
Sasori
"Hiks..hiks..hikss"
"Hey berhentilah
menangis, ini" memberikansapu tangan merahnya.
'mereka hampir mirip'
Sasori memperhatikan Shion.
Shion melangkah pergi.
"Hey?? Tak ada kata
terimakasih? Aku baru saja menolong mu!!"
"Te-te..ri..ma.ka'sih
hiks"
Yah mungkin Sasori sedikit
jahat, wanita yang menangis diajak bicara. Kemudian Shion kembali..
"Sapu hiks tangan..mu
akan ku cuci hiks"
"Ya.. Tak apa. Pakai saja
selagi kau memerlukannya"
xXx
Di
Atap Sekolah..
"Sasu..aku..aku tidak
bisa"
Hinata meninggalkan Sasuke
yang terdiam di atap sekolah.
"ARRRRGGGGGGGGG"
Menghempas setiap benda yang dilihatnya.
xXx
Pulang sekolah, Hinata
bersama Toneri ke butik.
"Nona, bagaimana
dengan yang ini? Nona..?”
"Hahh?? Umm ya"
Hinata tak konsen, perkataan
sasuke selalu terpikir olehnya
'Apa kau mencintai ku?'
Hinata menutup kuping dan
matanya, Toneri yang dari tadi mencoba pakaiannya kini matanya tertuju pada
Hinata.
Hari ini adalah hari
pertunangan Hinata dan Toneri. Hampir semua undangan sudah datang. Hinata
lagi-lagi melamun.
"Kau baik-baik
saja?"
Toneri memegang bahu
Hinata. Hinata mengangguk, kemudian menggeleng. Toneri bingung, namun dengan instingnya
dia membawa Hinata untuk duduk beristirahat. Gaara tiba-tiba datang, didengar
dari napasnya, dia seperti habis berlari. Berdiri tepat dihadapan Hinata.
"Gaara-kun, ada
apa?"
Hinata bertanya sambil memberikan
isyarat kepada pelayan untuk membawakan air minum, untuk Gaara.
"Minumlah dulu.."
GluklGukGluk.
"Hahh..Hinata
Sasuke.."
"Ya, Sasuke
kenapa?"
"Sasuke kecelakaan,
dia sekarang koma di Rumah Sakit."
Cangkir yang dipegang
Hinata terlepas..Hinata ingin pergi, namun Toneri mencegahnya.
"Lepaskan aku hiks
hiks kumohon"
Cengkraman Toneri semakin
erat.
“Ku mohon..hiks hiks”
Air mata Hinata member
suatu penjelasan untuk Toneri.
Dia melonggarkan genggaman
tangannya.
Jangan Tanya untuk
orang-orang yang berada disana, dari suara dentingan cangkir yang pcah, mereka
sudah menjadi sorota para tamu.
“Apa yag terjadi?”
Kaguya datang menghampiri
Toneri.
“Aku melepaskannya..
Wajahnya sendu.
Apakah aku sudah berbuat
benar.. Kaa-san? ”
Kaguya memeluk erat anak
semata wayangnnya.
“Kau benar Tone-kun, kau
benar. Tak apa. Kaa-san akan membatalkan acara pertunangan kalian. Anak Kaa-san
sudah bertarug dan adil dan keren”
Kaguya memang terlihat
dingin, namun sebenarnya dia sangat menyayang ananya. Walau sedih, dan sedikit
marah karena gagalnya pertunangan yang akan berdampak malu, akan dia lakukan
untuk anaknnya.
xXx
Di
Rumah Sakit
Kedua orang tua Sasuke
tidak ada, hanya ada Itachi, Naruto, Sai, Sikamaru. Gaara dan Sasori juga ada
disana.
Semuanya menunduk sedih.
“Sasu..ke..”
Hinata tak kuasa melihat
ini.
“Maafkan kami Hinata-chan,
gomen kami tak sempat menyelamatkannya”
Sai mencoba menjelaska.
Naruto yang tak
henti-hentinya menangis.
“Tidak mungkin!!”
Hinata menggeleng pelan,
semuanya terlihat buram karena air matanya.
Berjalan menuju jasat
Sasuke. Membuka kain yang menutupi wajah itu.
Memeluknya..
“Disaat terakhir dia bilang
sangat mencintai mu, meski aku sangat membencinya, tetapi aku tidak tau dia
akan berakhir seperti ini” Sasori mengelap air matanya yang menetes.
“Baka otouto, aku tak
menyangka yang dikatakannya tadi pagi ternyata mejadi kenyataan. Dia bilang tak
ada gunanya lagi utuknya hidup”
Itachi tak kuasa menahan
tangisnya.
“Gomen..gomen.. gomen..hiks
Sasuke-kun,, sugguh aku sangat mencintaimu,, aku mencintaimu. Hiks..”
Memeluk erat jasat itu.
“Hiks.. aku mencintai mu”
Berulang kali hinata
megungkapkan perasaannya.
“Aku rasa iu sudah cukup”
Sasuke membuka matanya,
tangannya memeluk Hinata. Hinata terbelalak. Tangisannya berhenti.
“Kau?? Kauuuu!!”
Hinata mengumpat
“KUsso SAsukeeeee!!”
“Bagaimana vidionya?”
Sasuke bertanya pada Gaara
“Yossh.. sangat bagus”
“Hey.. Heyy acting ku yang
sangat bagus”
Naruto tak mau kalah
“Kalian,, jadi kalian
bersekongkol?”
Pletak Pletak Pletak
Semuanya mendapat satu
jitakan dari Hinata, kecuali Itachi. Itachi tersenyum bangga.
“Ita-nii juga!!”
Hinata menghadiahkan satu
cubitan keras di pinggang Itachi..
“AAA… Itaii ” Meski sedikit
kesakitan namun raut bahagialah yang menghiasi wajah mereka semua.
Sasuke bangkit dan
menghapus air mata Hinata.
Memegang wajah Hinata dan
menatap mata itu lekat-lekat.
“Ekhemm..”
Hiashi berdehem, Fugaku,
Mikoto, dan Hitomi ada disana.
Neji memisahkan Sasuke dan
Hinata.
xXx
1
Tahun Kemudian..
Hari pernikahan Sasuk dan
Hinata. Trlihat raut bahagia dari dua mempelai.
Toneri datang kepesta
pernikahan Hinata.
“Sasuke jagalah dia, jika
kau menyakitinya, aku tak segan-segan untuk mengambilya dari mu!”
Memeluk Hinata, Sasuke
hendak perotes tapi bahunya dipegang Sasori.
“Kau.. apa yang diktakan
Toneri barusan juga berlaku bagiku. Jika kau menyakitinya aku akan merebutnya
dari mu..”
“Ha?? Ka..kalian. Tidak
akan aku akan melepasnya, akuu akan menjaganya meski nyawaku taruhannya”
Sasuke kembali menarik
Hinata kepelukannya.
“Mungkin kita tak akan
bertemu untuk waktu yang lama, aku akan ke Amerika”
“Tenang saja Hinata tak
akan kangen degan mu”
Sasuke memeluk Hinata
posesif.
Shion datang memeluk Hinata.
“Aa.. Saputangan”
Shion menunjuk Sasori, Sasori
si saputangan dia tak tau namanya.
“Eh..” Yang dipanggil hanya
melirirk sekilas.
Shion memberikan Saputangan
merah Sasori.
“Terimakasih, ini ku
kembalikan”
Gaara yang melihat tak mau
tiggal diam untuk saudara tirinya itu, entah kenapa, dia akhir-akhir ini suka
jadi makcomblang padahl dia sendiri masih jomblo.
Dengan jahilnya Gaara
mengikat gaun Shion dengan sabuk Gaara.
Sikamaru datang dengan
seorag perepuan. Yang lain melihatnya melengo, dia membawa Ino sebaai
pasangannya.
Naruto juga datang dengan
Sakura, yah.. mereka memang sudah jadian dan katanya juga ingin menysul Sasuke
dan Hinata.
Tenten yang terlihat
berbeda, rambutnya digerai yang membuat Neji jatuh cinta ketika meihatnya, Tenten
terlihat malu-malu karena Neji selau menempel padanya, Neji sudah seperti
permen karet.
Itachi, Sai dan Gaara trio
joker alias jomblo keren, melengo ketika melihat artis terkenal Mei Terumi juga
datang.
Baru saja mereka ingin
menghampiri, ternyata dia datang bersama seseorang.. dia Kakashi??
Mereka bertiga kini
berpelukan.
.
.
.
“Hinata apa kau mencintai
ku?”
“Sangat Sasuke, aku sangat
mencintaimu”
“Hinata, kau cinta
pertama,dan terakhir ku”
OWARI
Silahkan Review untuk keritik dan saran
