Selasa, 16 Februari 2016

Cinta Pertama, a naruto fanfic by Dandelion



Disclaimer : Naruto ©Masashi Kishimoto
       Cinta Pertama ©HimeDandelion
Pair        : SasuHina
Genre      :  Romance / friendship
Rated      : T
Warning       : Hinata dan Sasuke disini OOC, da Sakura terkesan jahat, tapi sebenarnya baik kok.
.
.
xXx

Istirahat Di Kelas

Sasuke berpacaran dengan Karin kelas sebelah, Karin selalu mengunjungi Sasuke kekelasnya. Dilantai seorang gadis berambut indigo sedang serius membaca novel  romancenya yg berakhir tragis, laki-laki dalam novel itu meninggal dan pura-pura terlihat berselingkuh agar istrinya tidak mengetahui penyakitnya dan kemudian membencinya setelahnya. Sungguh tragis, tanpa sadar air mata Hinata mengalir. Dia menutup bukunya.

 "Ada yang cemburu nih!!"
Tenten, sahabat Hinata tiba-tiba muncul disampingnya. Melihat posisinya yang tepat seperti menghadap Sasuke dan Karin tepatnya seperti bersembunyi (mengintip), kenapa bisa karena Hinata membacanya tidak dikursi, melainkan di bawah bersandar di tembok tepat didepanya meja yg melindungi keberadaannya.

 'Yang benar saja, kenapa mereka mengira aku menyukai Sasuke yang sok keren itu. Aku hanya meminta kunci gitar, dan dia memberikannya. Hanya interaksi sangat sederhana, itupun sdah seminggu yang lalu'
 dalam benak Hinata menggerutu.

 "Siapa yang cemburu!"
 "Hahaha ne Hinata-chan gak usah disembunyikan lagi kami tau kok"
Kiba juga ikut menimpali.

 "Sudah ku bilang aku tidak suka sama Sasuke"
Tenten hanya menanggapi dengan ber 'OH'

Tidak peduli suaranya terdengar mereka, yang penting mereka tidak salah paham itu yang Hinata fikirkan.

"Kalau begitu tersenyum dong jangan nangis gitu!!"
"Sudahlah Kiba jangan membuat Hinata tambah sedih"

Hinata yang sedang dongkol sama teman-temannya ini, malah semakin memojokkannya. Akhirnya Hinata tersenyum.
 " Pfft.. hahahaha ne Hinata-chan senyumnya aneh banget"

Mereka malah menertawakannya, membuat Hinata mengerucutkan bibirnya, karena marah dan sebal.
xXx
 Di Rumah

"Mosho Moshi"
Seseorang disana menjawab.
 "Oi Sasuke To The Point saja, aku tidak menyukai mu"
"Oh, lalu.."
 "Ja-ja..di kau jangan salah paham"
"Ok baiklah jadi hanya ini!"
"Ya, dan asal kau tau yang menyukaimu itu Ino bukan aku"
PRAKK tutt tutt tutt
dia menutup telponnya.

Por Sasuke
"Dia gadis aneh, dan kita lihat saja, aku makin tertarik pada mu."
Menunjukkan serigayannya.
xXx
Disekolah Besoknya
"Sudah ku bilang aku tidak suka, dan aku tidak mau berurusan dengan Ino cs, jadi berhentilah menyebut namanya"
"Hinata aku sepupumu, aku percaya padamu.. Sebenarnya,, aku ingin bilang _*sesuatu pada mu, tapi maukah kau berjanji untuk tidak mengatakannya, karena ini memalukan."
Pipinya mulai merona.

 "Katakanlah aku akan mendengarkannya"
 Hinata memberi kode mengunci mulutnya.
"Aku sudah menyukai Sasuke sejak pertama masuk sekolah"
Shion mengakui perasaannya, ya Shion juga sepupu Hinata. Mereka sekelas. Kursinya pun disebelah Hinata.
xXx
Hari ini Hinata terlambat, jam menunjukkan hampir pukul 09:00. Jangankan taksi atau bus, angkot pun tidak ada. Hujan mulai turun membuat pakaianny sedikit basah.
TIN TINN..
Suara klakson motor, seorang pria dengan seragam yang sama. Memakai helm tertutup.
“Naiklah!”
Hinata menunjuk drinya mulutnya seperti berkata ‘aku’
Pria itu membuka helmnya, dia Sasuke.
“Hn, kau siapa lagi!”
Melihat Hinata naik ke motornya, Sasuke sedikit tersenyum. Senyuman yang jarang diperlihatkannya.
‘Semoga tak ada yang melihat ku’
Hinata berdo’a..
Jalanan sedikit becek, Sasuke sengaja mengerem dadakan agar Hinata berpegangan.
xXx
Didepan Gerbang Sekolah
Ino dan Sakura membeli alat tulis, tiba-tiba melihat Sasuke dengan seseorang wanita dibelakangnya.
Hinata melihat mereka
‘Sial’ umpatnya dalam hati. Hinata bersembunyi di punggung Sasuke. Namun apa daya persembunyiannya ketahuan.
“Rambut indigo itu!”
Sakura mulai curiga, tangannya mengepal.
Berjalan keluar dari parkir, Hinata dan Sasuke mendapat point 5 karena terlambat, Hinata memberi semua alasannya namun tetap saja peraturan tetaplah peraturan. Menghela napas kemudian masuk ke kelas, semua siswa siswi menatapnya pakayannya basah dan sekarang sudah jam berapa??
Belum lagi dibelakangnya diikuti murid berandal bernama Sasuke yang hobbynya telat, tapi jadi kebanggaan para siswi..
Beruntung sekali hari ini tidak ada guru yang masuk, karena rapat mendadak, pelajaran pertama kosong. Belum sempat Hinata mengganti pakayannya dia sudah diserang beribu pertanyaan dari teman-temannya.

"Hinata-chan apa benar kamu pacaran sama Sasuke?"
"Ino bilang kalian baru jadian dan berboncengan?"
Dan bla bla bla..

Hinata sedikit melirik kearah Sasuke dan benar saja dia juga dikerumuni para siswa yang bertanya tentang hubungan mereka, tapi satu hal menjanggal, kenapa dia tidak menyangkal ketika dikatakan berpacaran dengan Hinata??
 Whatt
"Hinata kamu beneran pacaran sama Sasuke ya?"
Shion bertanya sedikit bercanda dan tersenyum.
"Tidak "
Refleks Hinata menjawab karena dia tau Shion menyukai Sasuke.
"Jangan salah paham Shion-chan aku hanya kebetulan terlambat dan tidak mendapatkan angkutan umum, sungguh "
Matanya memancarkan kesungguhan dan ada penyesalan disana.

"Hey..hey.. Kudengar Karin kemarin itu berkata ingin pindah sekolah, dia juga menjelaskan kepada kami bahwa dia dan sasuke sekarang tidak ada hubungan apapun. Kalo tidak salah dengar dia akan dijodohkan dengan Sugetsu makanya dia dipindahkan sekolah ke sekolah Sugetsu di Suna"
Tenten berbicara panjang
"Wah.. Kau mengorek informasi sangat detail, cocok jadi prisenter gosip Tenten chan"
Kiba memberi dukungan untuk masa
depan Tenten.
xXx
*Flashback 1 tahun yang lalu

"Sasuke-kun aku mencintaimu"
Karin menyatakan perasaannya di kelas Sasuke.
"Hn"
Sasuke menerimanya, Karin menghambur memeluk Sasuke. Namun ketika pulang bersama Karin, Naruto dan Gaara. Sasuke mengubah pernyataannya yang sangat konyol bagi teman-temannya.
sambil menuju tempat parkir.

"Tidak jadi"
"Teme apanya yang tidak jadi"
"Bukan untuk mu Naruto"
Gaara menjelaskan, Naruto dan Gaara berjalan dibelakang, pernyataan itu untuk Karin.
"Apa maksud mu Sasuke-kun?"
Karin ingin memastikan
"Ku rasa kau jenius, pasti sudah mengerti"
Sasuke masuk ke mobilnya. Gadis berambut merah itu terdiam sebentar, kemudian menangis berlalu meninggalkan Naruto yang terbengong, dan Gaara yang menanggapinya dengan santai.
"Hey jelaskanlah mereka kenapa? Baru jadian beberapa jam Karin sudah menangis!.."
"Kau memang Dobe Naruto sudah jelas Sasuke tidak menyukai Karin, dia hanya kasian jika karin dipermalukan ketika dia menolaknya, jadi sekarang Sasuke mencabut
kata-katanya”
Naruto garuk-garuk kepala   'jadi apa hubungan mereka sekarang!'
"Tidak ada hubungan apa-apa"
 Seperti bisa membaca pikiran lawan bicaranya.
xXx
Lapangan Basket

Tempat duduk pengunjung tidak begitu ramai sebab ini hanya sekedar latihan untuk kejuaraan nanti.
Hinata memilih tempat duduk yang ia rasa nyman, untuk melihat seseorang disana yang bermain.

"Apa yang kau lakukan disini, ini tempat duduk ku, minggir!!"
Dengan nada judesnya.
"Gomen, aku tidak tau"
'inikan kursi pengunjung duduk dimana saja bolehkan?? Heloo!!!'
Hinata kesal namun tak ingin berurusan dengan mereka.

"Menyingkirlah"
Ino tidak suka dengan  ,Hinata apa lagi setelah kejadian di gerbang sekolah tadi pagi yang membuat sahabatnya Sakura menangis. Jadi selama ini yang menyukai Sasuke adalah Sakura.

Hinata mengambil tempat duduk agak jauh dari mereka, Tenten mendapat giliran piket perpus, sedangkan Kiba entah kemana dia bersama Shino maniak serangga. Hinata hanya ingin menonton kakak kelas idolanya

Toneri bermain basket. Toneri terlihat begitu keren ketika melakukan shoot yang tak pernah meleset. Yah meskipun Neji-nii juga ikut bermain di antara mereka, Hinata ,hanya melihat Toneri, karena tadi pagi Neji meninggalkannya karena terlambat sungguh tragis nasipnya tadi pagi.
Etts.. jangan kira hanya kakak kelas karena tim mereka adalah gabungan antar kelas Sasuke juga ada disana dia menjadi ace karena bakatnya, Naruto, Gaara.
Sai dan Sikamaru duduk di bangku cadangan, karena ini hanya latihan, setelah istirahat Hinata membawakan air dan handuk kecil untuk Toneri, Hinata berjalan kearah Toneri. Sakura juga membawakan handuk kecil dan air mineral, iya memberikannya seraya tersenyum untuk Sasuke.

"Sasu.."
Posisi Sakura dibelakang Sasuke, baru saja iya memanggil namun Sasuke sudah berlari kearah Hinata dan menyerobot mengambil air minuman yang disiapkannya untuk Toneri.
"Sankyuu.. Hime"
Mengusap lembut rambut indigo itu dan membawa Hinata ke bangku taman sekolah yang bersebrangan dengan kantin.
"Hey itu, bu.. ??"
Gluk Gluk Gluk..
Air itu sudah habis..
"Hn?"
2 konsonan itu mengartikan 'ya?' siapa lagi kalau bukan Sasuke yang mengatakannya. Hinata terdiam matanya berkaca-kaca..

"Hiks Hiks " Hinata menangis
"Hey Hey.. Jangan menangis, nanti ku belikan es krim deh!!"
Sasuke gelabakan.
"Huaaaa... "
Hinata semakin menangis
"Cup..cup..cuppp.. ok,ok jangan nangis ayolah, aku hanya bercanda!"
"Kau..kau...merusak semuanya,, hiks' kau menghilangkan kesempatan ku hiks, dia tak akan melihat ku hiks hiks"
Sasuke mengangkat dagu Hinata dan menghapus jejak air matanya.

"Maafkan aku"
Sasuke memeluknya, melirik laki-laki yang baru saja datang dan duduk dikursi itu..

"Menangislah tak apa, pukullah aku."
Ternyata pria yang duduk di kursi dekat mereka berdiri itu Toneri yang habis dari kantin membeli minuman.. Sasuke memincingkan matanya menatap tak suka dengan Toneri, tak lupa ia eratkan pelukannya, menegaskan Hinata adalah miliknya.

"?? Ha..maafkan aku, aku akan pergi!.. Dan ,anggap saja aku tak melihat kalian, jaa.. "

Toneri berjalan cepat meninggalkan mereka, ditaman sekolah yang baru saja menghentikan aktivitas berpelukannya.. Hinata yang mendengar suara yang familiar itu tiba-tiba mendorong Sasuke, namun yang ia lihat adalah Toneri yang sudah menjauh.

" To ..To Toneri-senpai,,,, kyaaa... Kau jahat Sasuke-kun"

Memukul-mukul Sasuke yang tertawa terpingkal-pingkal, rencananya berhasil satu rival telah tersingkirkan.
xXx

Di Kelas

Ino dan Sakura mengumpulkan hampir semua teman-teman.
"Aku ingin kalian tau sesuatu, Sakura sudah lama menyukai Sasuke, karena Sasuke sangat mirip dengan mantan tunangannya Izuna, sepupu Sasuke yang sudah meninggal"
Ino memulai..

"Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi hiks, aku sangat mencintai Izuna..tapi Hinatalah yang memuat Izuna meninggal hiks hiks"
Air mata Sakura sudah tak terbendung..

"Memang apa yang sudah Hinata lakukan?"
Beberapa dari mereka bertanya, penasaran.

"Hinata yang membunuhnya, itu semua rencana Hinata menjebak Izuna dihari pertunangannya hingga Izuna tewas"
Ino mengambil alih.

"Aku juga tak menyangka Hinata hiks sekejam itu, dia selalu iri dengan ku, sekarang dia juga ingin merebut Sasuke dari ku. Setelah aku membuka hati untuk Sasuke hiks"
Air matanya semakin mengalir.

"Aku sungguh tak menyangka Hinata sejahat itu. Dulu Izuna sekarang Sasuke,, kita harus memberinya pelajaran"
Tayuya menyimpulkan.
xXx

Dibelakang Sekolah Shion mengajak Hinata mengintip seseorang dibalik pohon..
Shion sudah tau kejadian ditaman sekolah tentang Hinata dan Sasuke yang errrr...berpelukan, karena posisi kantin yang bersebrangan dengan bangku taman sekolah sangat mudah melihat mereka dibalik kaca.

"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu Hinata-chan"
"Mengatakan apa Shion-chan?"
"Kau tau tentang orang yang ku suka, umm..jangan salah paham dulu Hinata. Dulu aku memang menyukai Sasuke, tapi sekarang aku mempunyai idola baru"
Shion menunjuk seseorang yang tengah berjalan dengan headpone yang bertengger manis di telinga seorang pemuda, sepertinya dia sangat suka musik.

"Pria itu.."
Shion memastikan Hinata tidak salah lihat.

"Itu.. pria berambut kuning jabrik itu"
Hinata memastikan

"Ya, namanya Uzumaki Naruto.. Baru-baru ini kami tak sengaja bertemu, ayahnya adalah partner bisnis ayah ku"
"Kamu sungguh cepat sekali melupakan seseorang yang kamu suka Shion-chan"

Hinata merasa aneh, bukankah baru kemarin dia bilang suka sama Sasuke..

"Hehe..aku sungguh-sungguh Hinata-chan.. Aku benar-benar menyukainya, aku akan berusaha, dukung aku ya,,Hinata-chan"
Shion bersemangat.

"Aku selalu mendukung mu"
Hinata tersenyum manis. Mereka kembali ke kelas, tapi di perjalanan Shion dipanggil guru Iruka yang tidak bisa masuk karena istrinya melahirkan jadi hanya menitipkan tugas untuk para murid kepada Shion. Hinata sendirian masuk kelas.
Puk Puk ..
Hinata dilempari bekas minuman susu kotak para murid..
Puk Puk Puk..
 Lemparan itu semakin banyak..
"Dasar pembunuh,"
"Perempuan licik, kenapa tidak kepenjara saja"
"Pembunuh mati saja"
Puk Puk,,
 Dan..
BUKKk
Lemparan teraakhir itu seperti menyakitkan tapi Hinata tak merasakan apa-apa..
Seseorang yang baru saja datang melindunginya, ya Sasuke menghalangi minuman kaleng yang penuh itu.

"Aaa.. Itaii"
Sasuke mengeluh, tangan kanannya memar sedikit berdarah.

"Sa..Sasuke-kun.. semuanya hentikan"
 Sakura berlari kearah sasuke memegang tangan Sasuke

"Daijobu Sasuke-kun,, kita harus ke UKS tangan mu berdarah"

Hinata hendak pergi, matanya berkaca-kaca, dia tau maksud kata 'pembunuh' yang ditunjukkan padanya, namun Sasuke mencengkram erat tangannya, apa yang bisa ia lakukan..

"Jadi kau yang melakukannya..kau sadar apa yang kau lakukan? HAH"
Sasuke sedikit berteriak dan menepis tangan Sakura.

"Aku..ak hiks hiks aku hanya.."
"HANYA APA? Dengar kalian semuanya.. Apa yang kalian maksud pembunuh itu tidak benar, jangan asal bicara, karena aku bisa menuntut kalian. Siapapun yang menyakiti Hinata akan berurusan dengan ku, dan kau Sakura,,aku kecewa pada mu, aku tak akan mengatakan yang sebenarnya tentang kau dan dia karena aku sungguh kasihan padamu"

Dia yang dimaksud Sasuke adalah Izuna

*Flashback
Haruno Mebuki ibu sakura telah berjasa mendonorkan hatinya untuk ibu Izuna. Dan untuk membalas jasanya, Tobi ayah dari Izuna memutuskan untuk menjodohkan anaknya dengan Sakura anak dari si pendonor yang baik hati.
"Tou-san apa maksudnya ini? Perjodohan dengan Sakura, aku tidak mau, Tou-san aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai, dia Hyuga Hinata"
"Izuna jangan membantah besok adalah pertunangan kalian, aku tidak menerima penolakan"
Tobi berlalu meninggalkan Izuna..
xXx
Di Hari Pertunangan
"Apa kalian sudah membereskan gadis itu"
"Ya,, kami telah menyekapnya, di tempat rahasia. Bos kami sedang menuju kesana entah apa yang akan terjadi dengan gadis itu"
"Aku tak peduli, ini bayaran kalian"
Tobi memberikan koper berisi uang kepada mereka. Izuna mendengarnya, dia yakin gadis yang dimaksud ayahnya itu adalah Hinata. Izuna berlari menuju mobil, tak mempedulikan orang-orang yang ia tabrak, ya.. ini hari pertunangannya dia harus cepat kebagasi mengambil mobil dan kabur secepatnya.
Tato yang sempat ia lihat tadi adalah geng Laughing Kill dia tau markas mereka.
xXx
Sebuah gudang yang dijaga 2 orang pria bertubuh besar Izuna menghajar mereka, meski ia berlumuran darah dia tetap berusaha membuka pintu itu dan menemukan Hinata terikat dan tak sadarkan diri.
Seorang laki-laki memegang balok kayu yang besar..dia Zabuza bos dari Laughing Kill.

"Ow.. hero sang penyelamat"
"Lepaskan dia"
Izuna sangat marah langsung menghajar Zabuza dengan brutal. Zabuza balas menghantam Izuna yang sudah babak belur karena perkelahian pertamanya barusan. Izuna tersungkur dengan bersimbah darah.

"Hey hero,, lihatlah sang putri sudah sadar"
Zabuza mengambil balok kayu, mengayunkannya tepat didepan Hinata.

“TIDAKKKKK"
Izuna bangkit menghalangi balok kayu itu dengan punggungnya.

"Hime..."
Izuna tumbang menimpa Hinata.
"Tubuhnya berlumuran darah. Hinata melihatnya, Izuna tersenyum. Tersenyum untuk terakhir kalinya. Hinata berteriak keras. Zabuza memberi kode anak buahnya untuk memukuli Izuna yang sudah sekarat. Hinata berusaha terlepas dari ikatan.

"Hentikan, ku mohon jangan memukulinya lagi, pukul saja aku, bunuh aku, aku yang kalian inginkan, bunuh aku"
"Lepaskan ikatannya"
Hinata memeluk Izuna.

"Kita akan mati bersama "
Hinata memejamkan matanya.
"Pertunjukan selesai, bunuh mereka"
Zabuza menyuruh anak buahnya.
Brukk Brukk
Pukulan-pukulan itu berhasil mengenai Hinata.
BRAKKKK
Pintu markas terbuka paksa, seseorang, tidak tapi sekelompok pria, menghajar para Laughing Kill, dan seseorng laki-laki berambut reven menghajar Zabuza dengan bringasnya. Laughing Kill kalah, Zabuza lari.

"Teme kau membiarkannya kabur??"
"Tenanglah Dobe Itachi sudah mengepung mereka"

Itachi adalah komandan polisi termuda. Pria berambut reven itu segera menggendong Hinata yang tak sadarkan diri dengan darah mengalir dimulutnya dan
kepalanya.

“Oi.. denyut Izuna sudah tidak ada"
Sikamaru memeriksa denyut nadi Izuna.
xXx
Setelah Izuna sampai di markas Loughing Kill, dia menelpon teman-temannya, untuk datang dan menelpon polisi.

Hinata dilarikan kerumah sakit. Hyuga Hiashi, yang diberi tau Hinata diculik dan sekarang koma segera pulang dari Amerika ke Jepang. Hyuga Hitomi menangis, Neji mencengkram kerah Sasuke hendak memukulnya.

"Dengarkan aku, jika sesuatu terjadi padanya aku akan membunuhmu"
Neji tak kuasa menahan emosinya, dia tau Sasukelah yang menyelamatkan Hinata, Itaci yang menceritakannya kepadanya barusan. Neji sekarang mondar mandir. Hyuuga Hiashi datang.. Memeluk istrinya yang menangis histeris, Hiashi melihat Hinata dibalik kaca yang sedang terbaring dengan dokter diseklilingnya sedang mempacu detak jantungnya. Sasuke tertuntuk lemas...
'kumohon berjuanglah Hinata'
Di Tempat Lain
Tobi menyesali perbuatannya, anak satu-satunya Izuna sudah tidak ada, Sakura datang kepemakaman menangis sejadi-jadinya,mdia memang menyukai Izuna sejak pertemuan pertama mereka.
Tiba-tiba polisi datang memborgol tangan Tobi.

"Anda kami tahan, karena anda adalah dalang pembunuhan berencana"
Tobi pasrah, Izuna sudah tiada, hari ini Tobi menghadiri 2 pemakaman, Izuna dan istrinya. Ia sadar yang ia lakukan adalah keegoisan. Hari ini dia kehilangan 2 orang berharga dalam hidupnya.
xXx
Di Rumah Sakit Konoha
Detak jantung Hinata kembali, dia sudah melewati masa keritisnya. Semuanya merasa lega. Hyuga Hiashi menghampiri Sasuke.

"Kau?"
"Saya Uciha Sasuke"
Hiashi benci ketika Sasuke bilang marganya adalah Uchiha, karena yang menculik anaknya adalah klan mereka, namun orang ini menyelamatkan anaknya, jika saja ia terlambat, mungkin Hinata sudah.. Hiashi mengangkat sebelah tangannya, Sasuke bersiap untuk kemungkinan Hiashi akan menamparnya.

"Terimakasih"
Hiashi memeluk putra Fugaku itu.

"Kau telah menyelamatkan putri ku, berapa yang kau inginkan sebagai imbalan"
Hiashi to the point.
'apa semua orang hanya memikirkan uang,hn?'
 Itulah dibenak Sasuke
"Aku tak menginginkan uang"
Menjeda sedikit, kemudian melanjutkan.
"Aku ingin,,.. Berada di sisi Hinata untuk melindunginya, tolong..biarkan aku
menjaganya"
"Hahh.. Kau fikir aku akan merestui mu, kau masih SMA kelas 1 berani sekali kau Uciha"
"Aku.. bersungguh-sungguh.."
Hiasi telah meninggalkannya.

Besoknya dikantor Hiashi kedatangan tamu.
"Silahkan duduk, ada apa Fugaku"
"Aku ingin melamarkan anak mu untuk anakku"
"Siapa nama anak mu?"
"Sasuke, Sasuke Uciha"
"Aku tidak akan menikahkan anakku untuk urusan bisnis Fugaku Uciha"
Hiashi menegaskan

"Bagaimana jika mereka saling mencintai kelak. Baiklah aku tak perlu jawaban sekarang" "Kau teman ku sudah sejak kecil Fugaku, bukan apa-apa aku hanya ingin kebahagiaan putri ku"
"Aku tau, bagaimana jika kita melihat perkembangan hubungan mereka"
"Baiklah, jika Sasuke bisa membuatnya memilihnya, aku akan merestui hubungan mereka. Untuk sementara jangan katakan pada Sasuke aku menerimanya, aku hanya memberinya kesempatan"
Fugaku tersenyum, 'dia tak berubah' tetap tegas seperti dulu. Yah mau bagaimana lagi dia tak memiliki anak perempuan, mungkin dia juga seperti itu jika memiliki anak perempuan.
"Baiklah kita sepakat"
xXx
Seminggu sudah Hinata di Rumah Sakit, sekarang dia sudah diperbolehkan pulang.
"Kaa-san dimana Izuna-kun, kenapa dia tak menjenguk ku?"
"Hinata.."
Hitomi memeluk Hinata.
"Izuna..Izuna sudah tiada Hinata"
"Izuna-kun hiks hiks, Okaa-san,"
Disinilah Hinata sekarang di pemakaman Izuna, dengan didampingi 2 bodyguard.

"Kau Pembunuh.."
Seseorang disana berteriak menghampirinya.

"Pembunuh.."
Sakura berteriak, tanganya sudah melayang ingin menampar Hinata. Namun bodyguard Hinata dengan sigap menangkap tangan Sakura, dan menguncinya kebelakang.

"Lepaskan aku, Kau Pembunuh Hinata,,Kembalikan Izuna ku"
Sakura memberontak..
"Cepat bawa Hime kembali ke mobil"
Kakashi memberi perintah kepada Yamato dan dibalas anggukan.
*Flashback Off
xXx
Hari ini Hinata menjalani aktivitas seperti biasa, kesekolah seperti biasa.
"Ne Shion-chan,, coba lihat rambut sasuke,, kayak pantat itik phfft"
Hinata berbisik-bisik kepada Shion
"Bukan Hinata-chan itu mirip pantat ayam"
Shion dengan wajah polosnya.. Hinata tak sanggup menahan tawanya,, jika kemarin Sasuke tertawa terpingkal-pingkal kali ini Hinata tertawa sambil menunjuk rambut Sasuke.
 Posisi Hinata dibelakang Sasuke. Sasuke yang merasa ditertawakan berbalik, dan tak sengaja tangan Hinata mencolok mata Sasuke.

"Aw.. Arrgg sakit sekali"
Sasuke menutup matanya, mengerang kesakitan.

"Sasu..hey jangan bercanda ini tidak lucu"
Hinata bingung, cemas, dan gengsi untuk peduli..

"Hinata-chan Sasuke benar-benar kesakitan"
Shion menjelaskan.

"Sasuke,, yahh gimana nih!! Gomen,, aduhh.."
Hinata panic

"Hinata-chan coba periksa mata Sasuke"
"Aku"
Menunjuk dirinya,,

"Tap.. Tapi.."
"Arrgh Perihh"
Sasuke kesakitan. Hinata mendekati Sasuke memegang tangan Sasuke yang menutupi matanya.

"Aku.. Biarkan aku melihat matamu"
Ujarnya, hendak memeriksa, apa segitu parahkah?
Sasuke menurunkan tangannya, matanya masih terpejam, Sasuke membuka pelan matanya.
'Cup'
Ciuman singkat dari Sasuke membuat Hinata tak berkutik, Tangan Hinata menyentuh bibirnya, kemudian mencubit pipi Sasuke.
“Aww..”
"Ini bukan mimpi!, Kyaaaaaa.. ciuman pertamaku hiks hiks"
Hinata mendorong Sasuke, menangis tersendu-sendu Sasuke berusaha menenangkan Hinata. Berapa kali maaf pun tak bisa mengembalikan keperawanan bibirnya.

"Hiks hiks,, jangan mendekat"
Menunjuk Sasuke..

"Hinata gomen,, aku tidak tau itu ciuman pertamamu."
"Diammm.. Kau telah mengambil keperawanan bibir ku hiks hiks, bibir ku su..sudah..hiks'hiks"
"Aku akan bertanggung jawab, berhentilah menangis, ayolah.."
"Aku..hiks ingin ciuman pertama ku hanya untuk suami ku kelak hiks"
"Aku akan jadi suami mu kelak, berhentilah menangis"
Sasuke tersenyum geje..

Ternyata mudah sekali membodohi Hinata dengan mengiming-imingi Tenten kalo ciuman itu bisa menghilangkan keperawanan,, sungguh ironis. Dugaan Sasuke tepat, Tenten memberitahu Hinata. Dan Yappa, Hinata minta Sasuke bertanggung jawab, kenapa tidak..
xXx
Di Kantin

"Jadi kau akan menikah dengan Sasuke?"
Tenten bertanya
"Ya, dia telah hiks mengambil keperawanan ku.."
"Uwappa"
Kiba hampir tak percaya, makanannya sampe menyembur.

"Bagaimana bisa??"
Kiba bertanya _
penasaran.

"Karena Sasuke mengambil ciuman pertama ku, Tenten bilang keperawanan Hilang kalo ciuman"
"Phfft mwhahahaha"
Kiba tak percaya Tenten mengatakan itu pada Hinata

"Hehe.. Sasuke yang memberitau ku"
Ujar Tenten"
Kalian begitu bodoh, bukan seperti itu, kalian sungguh.. Hahaha.. aw perut ku sakit, aduhh aku akan pergi ke toilet sebentar"
Kiba berlalu, meninggalkan Hinata dengan tandatanya, jadi ini rencana Sasuke..

"Sasuke Bakaaaaaa!!"
Hinata berteriak keras. Sasuke yang berada di atap sekolah langsung cegukan..
xXx
Pulang Sekolah
Sasuke mengajak hinata pulang bersama.

"Anata ayo kita pulang" dengan senyuman yang mampu membuat para wanita fall in love.
"Anata??.. "
Hinata menengok kanan kirinya banyak wanita melengo.. Dia menanggapinya dengan santai berlalu melewati Sasuke.
'Baka yang ku maksud kau!!'
Sasuke kesal. Sakura yang melihat itu tak suka, langsung pergi.
xXx
Di Gerbang Sekolah

"Ne Hinata-chan aku pulang duluan, apa tidak apa-apa"
Jemputan Shion sudah datang.

"Tidak apa-apa Shion-chan, Neji nii sebentar lagi juga datang, mungkin dia sudah di parkiran"
Hinata menunggu didepan gerbang. Sasuke mengawasinya, tetapi tas sasuke dijambret.

"Hey kau,, akkhh kusso!! "
Sasuke berlari mengejar orang yang menjambret tasnya. Hinata masih menunggu sembari melihat jam beberapa kali.

"Neji-nii kenapa tidak keluar-keluar sih!!" Hinata mulai gelisah. Ditempat lain Neji sedang dihajar beberapa pria matanya ditutup.

"Cukup saatnya kita pergi!!"
Membiarkan Neji yang bersimbah darah akibat pukulan-pukulan keras yang mampu mematahkan tulang itu.

"Hi- na -ta.."
Neji mengkhawatirkan Hinata, berusaha bangkit dengan kekuatannya yang tersisa.
Dreet Dreet Dreet
Suara ponsel Hinata berbunyi, dari Kusso Sasuke.
"Kusso Sas.."
"Apa ini Hinata Hyuuga"
"Maaf, sepertinya kau bukan Sasuke?"
"Sasuke sedang bersama ku, jika kau ingin dia selamat datanglah kemari sendiri, aku akan mengirimkan alamatnya, tapi jika kau datang bersama orang lain dia akan ku bunuh.."
tutt tutt tutt..
Sambungan terputus. Hinata segera berlari mencari taksi untuk menuju tempat Sasuke diculik.

"Sasuke aku tak mau sesuatu terjadi padamu"
Ya Hinata takut kejadian lama terjadi lagi. Hinata mengambil kayu sebelum masuk ke tempat itu, sebuah bangunan tua yang besar..

Hinata mengambil kayu yang tergeletak dilantai, sambil mengamati bangunan besar tua, sebelum akhirnya masuk. Langkah kakinya begitu berhati-hati. Dengan memegang erat kayu yang akan menjadi senjata perlawanannya.
'Sasuke kau dimana' pikirnya,
Hinata begitu khawatir. Sosok laki-laki berambut merah menyeringai. Melihat CCTV

"Akhirnya kau datang sendiri Hime"
Hinata masih berjalan memegang kayu ,semakin erat, takut. Merasa seperti diawasi. Grepp

"Hampp"
Hinata dibius. Sekilas dia bisa melihat seulet rambut kuning panjang, dan dia tak sadarkan diri lagi.
xXx
"Hahh..Hahh..Hahh,"
Sasuke terengah-engah, dia kehilangan jejak sipencuri karena pencuri itu naik motor bersama temannya. Sasuke kemudian kembali ke sekolah mengambil mobilnya. Dia melihat Neji yang babak belur.

"Neji??"
Sasuke langsung menghampirinya
"Apa yang terjadi?"
"Hina..ta, Hinata dalam bahaya, ukhuk"
Mulut Neji mengeluarkan darah

"Jangan mengkhawatirkan aku, cepat cari Hinata, kumohon selamatkan dia"
Sasuke menelpon seseorang.

"Kau tunggulah disini teman-temanku akan datang membawamu ke Rumah Sakit"
‘Apa ini ada hubungannya dengan penjambret tadi? kusso!! Aku masuk _&jebakan mereka'
Sasuke mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Mencari telpon umum dan menelpon Hinata. Panggilan terjawab.

"Hinata kau baik-baik saja?"
"Hinata bersama ku, jika kau ingin menemuinya datanglah 1 jam lagi ke alamat yang ku sebutkan, ingat jangan membawa siapapun kau harus datang sendiri"
"Aku ingin mendengar suaranya!!"
Sasuke ingin memastikan, dia sangat frustasi.
"Baiklah.."
Penutup mulut Hinata di lepas.

"Sasuke jangan kesini"
Hinata berteriak. Pria berwajah seram itu kembali menutup mulut Hinata.
tutt tutt tutt
Sambungan diputus sepihak.

“Argggghhhhh"
Sasuke berteriak frustasi, 1 jam lagi, entah apa yang akan terjadi pada Hinatanya. Sasuke melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba di alamat tujuan, Sasuke bergegas masuk. Tempat ini, sangat bau alkohol, memasuki tempat itu. Sasuke melihat Hinata terkulai lemas di pangkuan seorang laki-laki berambut merah. Bajunya sedikit terbuka ,dibagian kerah, laki-laki itu mencium wangi lavender dari tubuh Hinata.
"Kau.. Bajingan"
Sasuke tak bisa menahan emosinya. Dia ingin menghajar pria itu. Namun para pria bertubuh besar menghalanginya. Sasuke menghajar mereka dengan bringas, tapi salah satu dari mereka mengambil tongkat
bruk bruk bruk..
Sasuke kena telak oleh pukulan-pukulan itu. Sasuke berusaha bangkit meski sangat menyakitkan.

"HINATAAa..HINATA.."
Panggilnya..
Bruk Bruk Bruk
Pukulan itu semakin banyak. Bayangan Hinata mulai memburam
"Hi..Na..TA.."
Sasuke diseret keluar dengan darah yang mengotori lantai. Sakura datang, melihat kondisi Sasuke yang parah,

"Sasukeee..."
Sakura berteriak marah.. Sasuke berada dipangkuannya dengan berlumur darah, Sakura segera masuk kedalam. Sakura hendak menampar Sasori, tetapi di tangkap Sasori lebih dulu.
" Kau licik"
"Bukankah kau sama!"
Sasori membalas kemudian melanjutkan
"Kau sendiri yang bilang aku mendapatkan Hinata, dan kau mendapatkan Sasuke, bukankah ini yang kau inginkan?"
"Tapi kesepakatan kita kau tak akan menyakiti Sasuke??"
Sakura melirik Hinata, yang terkulai lemas di sofa, berlari kearah Hinata mengguncang tubuhnya.

"Hinata sadarlah Hinata, kumohon!!"
"Kalian usir wanita ini keluar, Sekarang!!"
Ujar Sasori menunjuk Sakura. Sakura memberontak
"Lepaskan,, HINATA.. HINATAAA.. Akhh"
Rambut sakura dijambak
"DIAMM.."
Kata salah satu dari mereka yang berwajah seram, dia Kisame. Sakura didorong hingga jatuh kelantai, dia masih melihat Sasuke yang juga tak berdaya.. Sakura berusaha membawa sasuke ke mobilnya untuk membawanya ke Rumah Sakit.

Pria berambut putih datang, membawa beberapa bodyguards menghajar Sasori, dan membawa Hinata dari sana.

"Sasuke sekarang aku tau cintamu hanya untuknya. Aku akan menyerah"
Berbicara kepada Sasuke yang terbaring di Rumah Sakit. Itachi dan Mikoto datang, Sakura pamit pergi.

"Apa yang terjadi"
Itachi mencegat Sakura pergi.

"Hinata.. Hinata dalam bahaya.. Kumohon tolonglah dia"
Itachi segera pergi menuju alamat yang diberi Sakura, dengan beberapa anggota polisi. Sasori berhasil lolos dengan Heli diatas gedung yang sudah dipersiapkannya. Itachi tak menemukan Hinata. Dia juga tak melihat Sasori membawa Hinata. Beberapa pengawal Sasori berhasil di tangkap.
Sasuke sadar, mengerjap-ngerjapkan matanya, seluruh badannya terasa remuk.

"Hinata, Kaa-san dimana Hinata"
Sasuke langsunng bangun.
Pintu terbuka, menghadirkan Itachi dan Sakura disana.

"Maafkan aku,, maafkan aku Sasuke hiks hiks"
Sakura tulus meninta maaf.

"Itaci-nii dimana Hinata??"
Sasuke geram pertanyaannya tak mendapat jawaban.

"Hinata, tak ditemukan, maafkan aku Sasuke"
Itachi menunduk, raut wajahnya memancarkan penyesalan, atas kegagalannya.

"Aaaa... Aaaa ARGGGGG"
Sasuke berteriak menjambak rambutnya, menangis.. Melepas infus ditangannya. Berlari tak tentu arah, dengan sesekali memegang kepalanya,, Mikoto memanggil dokter, Itaci menghalanginya.

"Minggir.. Jangan halangi aku"
Namun penglihatannya semakin buram dan greep, dia hampir ambruk.. Itaci segera membawanya kembali.
xXx

Hiashi sudah mengirim 20 detektif FBI untuk mencari Hinata.

"Hinata.."
Lirih Hitomi, siapa yang tidak cemas jika anak satu-satunya diculik.
Krrringg..Krrrringgg
Suara telpon rumah berdering. Hiashi mengangkat telpon, ternyata dari Ootsuki Corp.

"Hinata sudah ditemukan"
Hiashi begitu bahagia. Hitomi yang mendengar pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, memeluk suaminya.

"Kita harus segera kesana!"
Hitomi sumringah, Hinata masih hidup. Rumah yang sangat mewah, lebih besar dari rumah Hinata, nuansa yang eleggan, ini seperti kerajaan.

"Kaguya sama"
Hiashi membungkuk hormat. Kaguya adalah atasan Hiashi. Perusahaan di Amerika juga cabang dari Ootsuki corp. Hinata yang melihat orang tuanya segera memeluk mereka

"Kaa-san, Tou-san.."
Mata Hiashi tak luput dari sosok pemuda berambut puth.
"Silahkan duduk, perkenalkan ini putraku. Toneri Ootsuki"
"Toneri Ootsuki"
Toneri memberi hormat dengan membungkuk.

"Toneri lah yang menyelamatkan Hinata-chan"
Kaguya menjelaskan

*Flashback
"Presdir Akasuna Corp meminta tambahan uang lagi untuk pembangunan baru diSuna "
"Lagi!! Bukankah kemarin sudah dikirimkan uang, ku rasa uang itu bahkan berlebihan. Karena Ootsuki Corp adalah donatur terbesar.
Kaguya mulai curiga dengan perusahaan yang dipimpin oleh Akasuna. Beberapa minggu terakhir dia sudah mengirim uang yang terbilang sangat banyak untuk pembangunan yang baru, bahkan bisa dikatakan uang yang telah dikirim berlebihan.
" Kankuro-san tolong awasi pergerakan Akasuna, awasi mereka bahkan anak mereka sekalipun, ku dengar anak dari akasuna sangat pintar, jangan mengabaikannya meski dia masih pelajar"
“Hai”
xXx
Seseorang menguping, dia adalah Toneri. Orang-orang Kaguya diluar yang melihat tingkah anak bos mereka itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Sst.."
Toneri memberi instruksi, agar mereka tidak berisik. Krek Kankuro membuka pintu. Dan Toneri jatuh kepalanya menjedot pintu yang baru saja Kankuro buka.

"Aaa.."
Memegang kepalanya. Kehadiran Toneri yang tidak elit membuat mata mereka tertuju padanya. Kankuro sedikit tersenyum, yang nyatanya dalam hati tertawa sangat senang, jarang-jarang dia bisa membuat Toneri malu, biasanya Toneri yang sering membuat dia malu, dengan mengejeknya tua, dan tak laku.
Segera Toneri berdiri, memberi hormat kepada ibunya.

"Saya ingin tugas itu diberikan kepada saya."
"Kau yakin bisa melakukannya"
"Ya saya yakin"
Melirik Kankuro yang geram, 'bocah awas kau' tugasnya diambil Toneri. Meski sering terlihat tak akur, sebenarnya Kankuro menyayangi toneri sama seperti menyayangi adiknya Gaara. Sudah 10 tahun dia mengabdi di Ootsuki Corp.
xXx
Tiba di Suna, Toneri membawa beberapa bodyguards untuk mengawalnya. Sebelumnya dia menyamar, dengan penampilan remaja pada umumnya, memakai kaos biru, celana jens , dan kacamata, sambil mengunyah permen karet. Toneri tidak masuk, hanya berjaga diluar. Dan sesuatu yang dia tunggu terjadi. Sasori keluar terburu-buru membawa sebuah koper besar entah berisi apa. Beberapa pengawal mengikutinya Sasori mengangkat telpon masuk.

"Aku segera kesana, jangan kalian sentuh wanita itu, sehelai rambutnya saja patah akan kuhabisi kalian"

'wanita siapa? Protektif sekali dia' Toneri mengikutinya, menghafal plat mobil yang
mereka pakai. Sebuah klub malam yang mewah. Kini Toneri sudah mengganti pakaiannya terlihat gagah memakai jas putih, dan akhirnya masuk bersama bodyguardsnya. Dilantai ada bercak darah, seperti seseorang baru saja diseret. Matanya kini tertuju pada sosok gadis barambut indigo yg tak sadarkan diri dipangkuan Sasori. Posisi Sasori sekarang mencium tangan Hinata lembut.

"Kau hanya milik ku"
Sasori ingin merapikan kancing baju Hinata yang terbuka, namun terlihat seperti ingin membuka kancing baju Hinata..
 'Hinata' mata Toneri terbelalak, gadis itu Hinata.
"BAJINGAN"
Bruk Bruk Bruk..
Toneri tak memberi Sasori kesempatan memukul. Melihat bos mereka dipukul, pengawal Sasori ingin membantunya namun dihalangi bodyguard Toneri. Sasori ambruk. Toneri menggendong membawa Hinata pergi dari tempat itu.

*Flashback off

"Langsung saja pada topik utama, aku ingin Hinata menjadi menantuku"
"Apa?"
Ucap Hinata dan Toneri bersama..
"Ada apa? Bukankah kau bilang menyukai Hinata?"
Kaguya menunjukkan pertannyaan kepada Toneri.

"Aku memang menyukainya, tapi apakah Hinata juga menyukai ku?"
Toneri melihat ke arah Hinata. Dia tau Hinata sangat dekat dengan Sasuke. Yah..mungkin saja ada hubungan diantara mereka.

"Apa kau mencintai Toneri Hinata?" Hiashi memastikan.
"..."
Semuanya melihat kearah Hinata

"Aku..sebenarnya juga menyukai Toneri-kun tapi.."
"Wah.. kebetulan sekali, jadi bagaimana Hiashi"
Kaguya memotong perkataan Hinata, yang ia rasa sudah cukup untuk hal yang perlu ia dengar.
"Apa kau bahagia Hinata?"
"Aku memang bahagia Tou-san ta.."
 Dan perkataan Hinata tak terselesaikan lagi.
"Baiklah aku menerima lamaran ini"
Ujar Hiashi

"Resepsi pernikahan akan dilakukan setelah kelulusan kalian"
Berarti sekitar 1 tahun lagi. Mengingat Toneri sudah memasuki Ujian akhir Sekolah, dan Hinata kelas 2
'Kau gagal Sasuke..'
Hiashi sedikit sedih.
xXx
Di kamar bernuansa lavender. Penghuninya merasa gelisah, tak bisa tidur.

"Arrgg"
Mengacak-ngacak rambutnya.
"Kenapa aku tidak bisa tidur, fokus Hinata fokus, bayangkan saja kau sedang jalan-jalan bersama Toneri-kun"
Hinata berfikir keras agar bermimpi bertemu Toneri. Namun beberapa saat kemudian dia benar-benar bangun dari posisinya.
"Kenapa aku sempat ragu, ketika bilang aku menyukainya ya? Tapi aku senang ternyata cinta ku tak bertepuk sebelah tangan"

Kemudian melanjutkan tidurnya. Hiashi sudah mengatakan perihal Hinata yang akan menikah dengan keluarga Ootsuki kepada Fugaku.
'Apa yang harus ku katakan pada anak itu'
Fugaku berfikir.
xXx
Pagi ini, Sasuke sekarang sudah diperbolehkan pulang. Dia selalu bertanya tentang Hinata.

"Aku harus mencari Hinata"
"Baka otouto, Hina-chan sudah ditemukan, berhentilah menyiksa diri mu"
"Yokatta..kau yang menyelamatkannya?"
"Bukan, tapi.. anak dari Presdir Ootsuki Corp yang terkenal itu"
"Ootsuki,,"
Sasuke mengingat marga itu.

"Kalau tidak salah namanya Toneri Ootsuki."
Sasuke terdiam tak mengatakan apapun, Toneri adalah orang yang disukai Hinata.
xXx
Kembali ke mension Hyuga. Hinata baru saja bangun, melirik jam sudah pukul 07:12 am

"Gawat aku telat"
Bersiap-siap namun ketika melihat bayangannya dicermin dia berhenti. Matanya sekarang hampir menyerupai mata Gaara.

"Kyaaaaaaa"
 Lingkaran hitam disekitar matanya menandakan dia tadi malam tidak bisa tidur.
'Semalaman aku mengingatnya, apa yang terjadi pada ku, Sasuke kusoo!!'
Tok Tok Tok
Hinata membuka pintu kamarnya.
"Okaa-san"
"Kau sudah bangun, ini makanlah dulu"
Hitomi membawa nampan berisi susu dan roti.
"Kaa-san sudah menelpon kepala sekolah mu, kalau Hinata-chan hari ini tidak sekolah"
"Kaa-san"
Hinata merebahkan kepalanya di pangkuan Hitomi.
"Ada apa sayang?"
Memusut lembut kepala Hinata.
"..."
Hinata hanya diam.
"Ceritalah, siapa tau Kaa-san bisa membantu"
"Kaa-san sebenarnya akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang pemuda,, um.. Bukan
"Toneri"
Hitomi terperenjat ketika mendengar bukan Toneri.
"Lalu.."
Ujarnya Hitomi dengan nada hati-hati
"Dia suka menggangguku, menghiburku, membuat ku panik, dan sering menolongku, entah kenapa aku sering teringat padanya.."
"Kau menyukainya?"
"Aku tak tau, tapi aku senang berada di sisinya.."
Mengakhiri ceritanya.

"Siapa dia?"
"Dia..kus..um Uciha Sasuke."
Hampir saja Hinata bilang kusso Sasuke, untung saja.
Hitomi menarik nafas, dan melepaskannya, wajahnya terlihat sendu.

"Toneri hari ini ingin mengajak mu jalan-jalan, Kaa-san akan mengatakan kau sakit jika tidak mau!"
 "Kenapa tidak, Kaa-san aku akan bersiap-siap"
xXx
Ditaman Kota
"Hinata-chan?"
"Um.."
Mengamati bunga-bunga
"Bagaimana bisa kau bersama Sasori sampai tak sadarkan diri?"
"Ha?? Etoo aku tidak tau.. Tapi seseorang menelpon ku dia bilang menculik Sasuke..seseorang membius ku aku sedikit melihat helayan rambut kuning panjang, terakhir aku berbicara dengan pria berwajah seram"
Hinata tercekat dia belum tau keadaan Sasuke, dimana dia.

"Sasuke, aku harus mencarinya"
Hinata hendak berlalu, namun tangannya digenggam erat Toneri.

"Dia baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku dengar dia sudah pulang dari Rumah Sakit, kita bisa menjenguk ke rumahnya"
"Bolehkah??"
"Ya,tentu"

xXx
Di Mansion Uciha
"Otouto kau kedatangan tamu."
"Bilang aku tidak ada"
Sasuke merasa terpuruk, beberapa jam terakhir hanya dihabiskan dengan melamun.

"Diluar ada Hinata da.."
"Keluar"
"..."
"Aku Bilang Keluar"
"Baiklah.."

Di Ruang Tamu
"Sasuke sedang tidur, apakah aku perlu membangunkannya?"
Tutur Itachi bohong.

"Tidak perlu, gomen sudah merepotkan"
Hinata memberi hormat kemudian disusul Toneri yang juga membungkuk lalu pergi.

Fugaku memasuki kamar Sasuke
"Tou-san rasa kau perlu tau,, jika Toneri Ootsuki akan menikah dengan Hinata. Apa kau akan menyerah sekarang, hn?"
"..."
"Apapun keputusan mu, Tou-san akan mendukung mu"
"Kejarlah dia, jangan sia-siakan usaha mu Okaa-san juga mendukung Sasuke"
Mikoto hadir dibelakang Fugaku. Sasuke bangkit dari tempat tidurnya.

Dreet ponsel Hinata berbunyi
'Kau dimana?'
'Aku di kafe bersama Toneri-kun'
'Tunggu aku, aku akan segera kesana'

Toneri melirik Hinata yang mengotak-atik
ponselnya. Seseorang perempuan cantik berambut kuning datang menghampiri mereka.

"Toneri-kun, sudah lama kita tidak bertemu"
Perempuan itu bergelayut mesra memeluk lengan Toneri.
Perempuan yang diketahui bernama Anko Mitarashi. Hinata yang melihatnya hanya diam.

"Siapa dia?"
Ujar Anko dengan angkuh, dan meremehkan
"Dia Hinata Hyuga, perkenalkan Hinata ini Anko Mitarashi"
Hinata memperkenalkan dirinya, dan mengajak berjabat tangan, namun tak mendapat sambutan dari Anko. Posisi Hinata berdiri.

Sasuke datang, dia geram melihat seseorang perempuan yang bergelayut mesra dengan ,Toneri, dan Hinata ada disana posisi tangan Hinata yang terangkat dalam keadaan berdiri, Sasuke mengambil kesimpulan Hinata habis menampar Toneri, Sasuke mengambil tangan Hinata dan membawanya pergi dari sana.
xXx
"Ini bayaran mu"
Toneri memberi sebuah amplop berisi uang. Sambil melihat kepergian Hinata bersama Sasuke.

"Ternyata kau tak cemburu, Hinata"
Berlalu meninggalkan kafe.
xXx
Di Taman
"Sasuke apa yang kau lakukan?"
"Melepaskan cengkraman Sasuke dari tangannya.
"Apa yang ku lakukan, hah?? Kau pikir aku tega melihat mu diperlakukan seperti tadi?"
"Maksud mu?"
" ?? "
'maksud dia bilang?? Apa yang terjadi dengan otaknya, biasanya dia marah jika gadis lain mendekati Toneri di sekolah'

"Sudah lah lupakan, kau mau es krim?"
Ujar Sasuke kemudian.
"Boleh, tapi aku kesini dengan Tone-kun aku harus kembali ke kafe"
Ujar Hinata sambil berlalu. Sasuke menarik pasksa Hinata.

"Lepaskan aku Sasuke-kun!!"
"Lepaskan dia Sasuke. Kau tak mendengarnya?"
Toneri berada tak jauh dari mereka.
"CUKUPP"
Hinata berteriak.

Melihat ekspresi Toneri dan Sasuke, membuat Hinata mengerti 2 pria ini tak kan akur.
"Aku mau pulang"
"Biar ku antar"
Kata mereka berdua secara bersama.

"Aku bisa sendiri."
"Tidak "
Ucap mereka bersamaan lagi.

"Aku calon su'a'mi mu, aku tak kan membiarkan mu pulang sendiri aku takut terjadi sesuatu pada mu"
Toneri memberi penekanan pada kata -=suami=-. Toneri menggenggam tangan Hinata membawanya bersamanya. Beberapa langkah mereka berjalan Sasuke mengambil tangan Hinata yang satunya.

"Hinata pulang dengan ku"
Hinata melirik keduanya. Mata Sasuke dan Toneri seperti memancarkan aliran listrik. Terakhir mereka berdesakn dengan memakai 1 mobil, Sasuke tak peduli walau itu mobil Toneri. Dikursi belakang ada 3 orang yaitu kiri Toneri, tengah Hinata, dan kanan Sasuke. Supir Toneri didepan bingung melihat mereka,, namun dia tak ambil pusing, toh tugasnya hanya menyetir.

Dijalan Hinata ketiduran, karena tadi malam tak tidur nyenyak akibat Sasuke yang mengusik Hinata seperti nyamuk. Kepalanya Hinata kini tersandar ke bahu Sasuke, Sasuke tersenyum. Toneri mengalihkan kepalanya kepundaknya dengan hati-hati.
Tiba-tiba seseorang berambut merah berlari dan tertabrak. Supir yang mengemudi mengerem mendadak, kedua pria ini melindungi Hinata agar badannya tak terhempas, Hinata terbangun.
"Apa yang terjadi Kabuto-san?"
Kata Toneri
"Maafkan saya tuan, sepertinya saya menabrak seseorang."
Hinata segera keluar dari mobil, melihat yang terjadi. Pria itu Sasori. Hinata menghampirinya tanpa rasa takut, dia tak tau jika pria itu pernah menculiknya. Dari jauh terlihat Kankuro berlari, rupanya dia tadi mengejar Sasori.

"Hinata segera menjauh!, dia orang yang berbahaya" Sasuke berusaha membawa Hinata menjauh. Hinata tak tau seberapa bahayanya orang ini, yang jelas yang dia pikirkan saat ini adalah pria itu harus segera dibawa ke Rumah Sakit.

"Kita harus cepat membawanya ke Rumah Sakit"
Hinata khawatir. Melihat usaha Hinata yang ingin menopang tubuh besar Sasori, Sasuke akhirnya menolongnya
xXx
Di tempat lain Toneri berbicara serius kepada Kankuro.

"Sebelumnya kita harus mengobatinya dulu"
Toneri memberi pendapat.

"Baik, saya mengerti"
Hospital Konoha
Kepala Sasori diperban, pakayannya pun berganti menjadi pakaian pasien.
Sasori melihat tidak suka kearah Toneri.
"Aku ingin penjelasan mu, kemana uang-uang yang telah dikirim Ootsuki Corp untuk pembangunan itu?"
"Uang apa? Aku tidak tau"
"Jangan berlaga bodoh, aku melihat mu membawa koper besar dihari Hinata diculik"
Menginstruksi.

"Koper itu bukan uang, aku kabur dari rumah,, "
Ujarnya 'untuk apa aku mengatakan ini,, heh menyebalkan'

Sasori kabur dari rumah ayah tirinya yaitu ayah Gaara. Dia pergi menemui ayahnya. Yang sedang bingung, uang konstruksi yang tak kunjung datang, sedangkan pembangunan akan rugi besar jika tak membayar uang tunggakan beberapa hari lagi.

"Kita pergi sekarang."
 Toneri memberi perintah kepada 2 orang polisi yang bersamanya, beserta Kankuro. Melihat polisi yang sudah keluar Hinata masuk kedalam, membawakan apel.

"Kau tidak apa-apa?"
Katanya Sasori yang melihat Hinata mengupaskan apel tersenyum. Sasuke tidak masuk, Hinata melarangnya masuk. Meski sudah dibilang Sasuke bahwa Sasorilah yang menculiknya beberapa hari yang lalu.

"Kau Sasori Akasuna benar?, aku ingin bertanya sesuatu pada mu"
Hinata langsung ke topik pembicaraan.
"Aku akan menjawabnya, apapun"
Sasori sangat senang bisa bertemu Hinata lagi.

"Untuk apa kau menculikku, apakah kau memiliki dendam?"
"Dendam? Hahaha.. Sungguh, kau tak ingat! aku?"
Ada raut kekecewaan disana. Sasori mengambil sesuatu dibalik sakunya.
"Ingat? Maksud mu mengingat apa?"

Sasori tersenyum, 'aku Ori kecilmu dulu' ujarnya dalam hati.
"Bukan apa-apa" Sasori mengambil air disebelah Hinata. Hinata bingung, hatinya bertanya-tanya, seperti mengenal pria ini. Namun dia tak bisa mengingatnya. Mata Hinata kini tertuju pada kalung yang dikenakan Sasori. Bandul itu sama seperti kalungnya waktu kecil. Kalung pemberian 0Kaa-sannya, dibalik bandul liontin itu tertulis violet. Hinata menyentuh kalung itu. Didalamnya terdapat fotonya masih kecil, disebelah fotonya terdapat foto anak laki-laki kecil.
 "Kau.."
"Ini aku Hime"
Hinata memeluk Sasori, menangis dipelukannya.

"Baka.. Baka.. Baka..Ori-kun Baka Hiks hiks"
"Maafkan aku Hime, sudah membuat mu khawatir, selama 10 tahun"

Brakk..
Sasuke mendobrak pintu. Memisahkan Hinata dari Sasori. Mencengkram kerah Sasori. Sasori tak melawannya, ujung bibirnya sedikit tersenyum. Hinata memegang bahu Sasuke, menenangkannya.

"10 tahun yang lalu dia telah mengorbankan hidupnya untuk ku"
Sasuke terbelalak, bagaimana bisa si berengsek itu..

"Aku tak menyangka, aku pikir dia sudah tidak ada..."
Raut Hinata sedih ketika mengingatnya.

"Tapi sekarang aku senang dia selamat"
Hinata tersenyum kemudian.
*Flash Back
Seorang anak kecil berusia 7 tahun dan seorang lagi berusia 8 tahun dilarikan ke Suna.

"Tou-sannn,, Kaa-sannn"
Hinata berteriak dan menangis..
"Kau bawa Hinata dan Neji ke suna cepattt"
Kepada orang yang bernama Hatake Kakashi

"Baik tuan"
Dor Dor Dor
Suara peluru, mengintai mereka Hiashi dan Hitomi kembali. Hinata dan Neji diboyong masuk kedalam mobil. Meninggalkan Tou-san dan Kaa-sannya.

"Apa yang kau inginkan Pain?"
Saling menodong senjata. Mereka adalah gangster yang menamai keompok mereka Akatsuki.

"Katakan dimana kau menyembunyikan emas itu?"
"Aku tidak tau...Kau ingat aku sudah lama berhenti, jangan mengusik keluargaku."
Ujarnya Hiashi tegas dengan pemawaan tenang

"Kau Bereng...."
 Pain laki-laki itu ingin menembak Hiashi namun dicegah Konan.. Suara serene mobil polisi berbunyi dari kejauhan.

"Pain, kita harus pergi sekarang"
"Dengar, aku tak kan tinggal diam"
Mengarahkan pistol ke arah Hitomi, Hiashi melihatnya, mencoba menarik dan melindunginya. DORR
Darah mengalir dari tangan Hiashi. Polisi datang. Rumah Hyuga kini berantakan. Sedikit terlambat membuat para gangster itu berhasil kabur.

"Kalian tenanglah, beberapa dari kami telah mengejar mereka. Hiashi, dimana anak-anak?"
Fugaku adalah kepala polisi. Berteman baik dengan Hiashi sedari kecil. Dia juga tau Hiashi keluar dari gangster Akatsuki setelah kelahiran anak pertamanya Hyuga Neji. Meski terkejut awalnya karena profrsinya dulu. Fugaku mengetahui profesi Hiashi setelah dia keluar dari Akatsuki.

"Mereka bersama Kakashi, menuju Sunagakue"
"Apa Akatsuki sempat melihat mereka"
"Kurasa tidak"
"Itu lebih baik, jika mereka melihatnya, nyawa anak-anak mu dalam bahaya"
xXx
Satu minggu sudah Hinata dan Neji di Suna, Kakashi membawa mereka ke tempat nenek Chio. Tempat pertemuan pertama Sasori dan Hinata. Semenjak ayah Sasori dan ibunya bercerai Sasori memilih tinggal bersama neneknya, Nenek Chio.

"Ori-kun?" panggilan Sasori kecil
"Hn?"
Sasori merapikan koleksi boneka kayunya.

"Hari ini aku akan kembali ke Konoha."
Sasori melepaskan boneka kayu ditangannya secra tiba-tiba.

"Kau..kau akan kembali"
Ada raut sedih dan kekecewaan disana.

"Tutuplah mata mu, dan jangan mengintip"
Hinata memasangkan kalung pemberian Kaa-sannya waktu ulang tahunnya yang ke 7th, 1 bulan yang lalu dibulan December.

"Sekarang bukalah mata mu"
"Liontin?"
Sebuah liontin bertuliskan violet, didalamnya terdapat foto Hinata.
"Ya ini kalung berharga pemberian ,Okaa-san ku, simpanlah.. Nanti jika bertemu lagi kau bisa mengembalikannya pada ku, um.. Sebagai alasan untuk bertemu mungkin"
Hinata tersenyum. Senyuman yang teramat manis bagi Sasori. Meski usia mereka sama. Sasori menganggap Hinata adalah cinta pertamanya.
"Besoknya Kakashi menjemput mereka. Neji sepertinya tidak suka dengan Sasori. Dia menggenggam erat tangan Hinata menuju mobil. Hinata terus memandang kebelakang. Sasori mengejarnya, meski tertinggal jauh.

BRAKKKKKKK, cccCCCreeeEEtttt..
Sebuah truk bsar menabrak mobil mereka.
"Kakashi tak sadarkan diri, kepalanya mengeluarkan banyak darah. Sayup-sayup Hinata masih sadar meski kepalanya berdarah. Neji memeluk Hinata benturan keras membuat Neji tak sadarkan diri. Pain keluar dari dalam mobil. Melihat Hinata tak mati Pain menyeretnya. Lokasi kecelakaan adalah jembatan. Pain ingin melempar Hinata ke dalam air. Belum sempat terjadi Sasori menggigit tangan Pain.
"Bocah sialann!!"

Dengan gampang Pain mendorongnya. Sasori tersungkur. Namun tak putus asa menyerang Pain, walau serangannya tak berarti bagi Pain, hingga Pain memberikan satu pukulan di perutnya.
"SASORIII!!"
Hinata histeris..Sasori kini tak berdaya.
"Aa.. Bagaimana jika dia yang kuceburkan lebih dulu. Anak manis, lihatlah pahlawan kecilmu.”
"TIDAKKKKKKKK"
Hinata berusaha menggapai..
Kemudian melihat Sasori dibuang begitu saja, dia tak sadarkan diri.
*Flash Back Off

"Aku selalu berusaha hidup normal layaknya gadis lain, setelah kejadian itu"

"Siapa yang menyelamatkanmu?"
Sasuke sebenarnya tidak terima Sasori selamat.
"Aku diselamatkan ayah, nenek yang menceritakannya"
Ujarnya santai. Sasori sekarang menggenggam tangan Hinata. Sasuke dongkol melihatnya berani-beraninya dia!!

"Hinata aku mencintaimu"
" ...?"
"Hinata milik ku, dia takkan menerima mu."
Sasuke sedikit pede mengungkapkanny walau ada rasa takut,, takut jika Hinata menerima Sasori.
"Maaf, Sasori, aku tidak bisa."
"Hn, Aku sudah menduganya, tak apa-apa"
Sasori tersenum kecut..
Pintu terbuka menampilkan Toneri baru datang.

"Maafkan aku. Atas menuduh mu, dan ayahmu yang melakukannya, kalian tak bersalah, Seseorang dari kami yang telah berkhianat. Sugetsu yang membawa kabur uangnya"
xXx
Disekolah jam istirahat..
"Hinata, kenapa kau membawa 2 bento"
Tenten bertanya.

"Aaa.. Apakah itu untuk ku Nata-chan"
Kiba sumringah.

"Baka.. Ini untuk kus...o"
"?? Kus..o! "
Kiba bingung..
"Untuk ku sendiri.."
Lanjutnya lancar.
"Ne Hinata-chan kau tak takut gemuk?"
Tenten khawatir kepada sahabatnya yang satu ini. Hinata melirik kanan-kiri
'Dimana kuso Sasuke itu'..
"Ahh..Shion-chan kemana ya?"
Hinata mendapat sebuah ide.

"Aku tidak tau, dia tidak bilang kepada kami" Kiba menjawab.
"Aku akan mencari Shion, jaa.." Hinata pergi.

Tiba-tiba ponsel hinata berbunyi
"Kau dimana, aku mencari mu!"
"Aku diatap"
"Baiklah aku akan segera keatas"
Hinata menutup telponnya. Di Atap Sekolah

"Ini, ku dengar dari Ita-nii kau semalam kabur dari rumah, kenapa kau melakukannya? Kaa-san mu khawatir."
"Aku tidak apa-apa, aku hanya menginap di rumah Gaara"
"Kau tak bilang apapun pada orang tua mu, apa itu yang kau sebut acara menginap di rumah teman?"
Sambil menyerahkan bento buatannya.

"Baiklah aku kabur"
Mengambil bento buatan Hinata dan memakan onigiri. Sasuke memang belum sarapan.

"Enak"
"Jangan mengalihkan pembicaraan”
 Hinata memang senang dikatakan masakannya enak, tapi dia tak bisa melihat Mikoto baa-san mencari kusso Sasuke kerumahnya dengan khawatir dihujan deras seperti tadi malam.

"Aku Kabur Karena Kau!!"
Sasuke menaikkan nada bicaranya.
"Aku??"
"Ya Kau..Hinata, kau tau aku mencintaimu."
Sasuke memegang bahu Hinata, menatap mata bulan gadis itu..

"Apa kau mencintaiku?"
xXx
Di Taman Sekolah
"Naruto-kun?"
"Ehh? Shion-chan, ada apa?”

Memberikan amplop kuning bergambar hati merah. Naruto sedikit bingung, namun kemudian
dia mengerti.

"Apa ini surat cinta?"
Pertanyaan Naruto sontak membuat pipi Shion merona.
"Um.."
Shion mengangguk kecil.. Naruto mengusap pelan kepala Shion, tersenyum padanya.

"Gomen, Shion-chan. Aku tak bisa. Aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai.”
 Naruto menunjuk kursi taman Sekolah. Disana duduk seorang perempuan. Shion hanya melihat dari belakang, tapi rambut perempuan yang ditunjuk Naruto berwarna pink.

"Saku..ra?"
Tanyanya, menahan air mata. Mengeratkan genggaman tangannya,
‘aku __tidak boleh menangis' pikirnya.
"Ya.. Sakura, aku sudah lama menyukainya, kami baru saja jadian, maafkan aku.." Naruto merasa tidak enak,, sungguh dia tak bermaksud menyakiti hati perempuan ini.

"Kau tidak apa-apa?"
Tanya Naruto yang melihat Shion menunduk.

"Dia tak apa-apa"
Seseorang dibawah pohon yang terganggu tidurnya, karena mereka,, Shion dan Naruto.
"Kau ?"
"Aku Sasori, murid pindahan dari Suna. Ayo ,Shion-chan kita berlatih drama lagi, wahh.. Akting mu sengguh luar biasa."
"Akting??"
Naruto mulai berpikir 'aku tertipu??'
Namun dari jauh Naruto melihat Sakura yang hendak meninggalkan taman.

"Wahh.. Dia meninggalkan ku!!, semoga drama kalian sukses"
Dia yang dimaksud adalah Sakura. Naruto berlari mengejar Sakura yang sudah meninggalkan taman.

"Sakura-channnnnn?"
Hahh Hahh Hahh..
"Dari mana saja, kau baka? Aku menunggu mu lama sekali!!"
"Aku ada urusan tadi, gomen.. Gomen ne Sakura-chan ne ne ne.."

Naruto mengedipkan mata 3 kali sambil bersuara manja, membuat Sakura tersenyum. "Berhentilah, seperti itu.. Ya, aku memaafkanmu"

Naruto memeluk Sakura.
"Terimakasih" dengan cengiran khasnya.
xXx

Kembali ke tempat Shion dan Sasori
"Hiks..hiks..hikss"
"Hey berhentilah menangis, ini" memberikansapu tangan merahnya.
'mereka hampir mirip'
Sasori memperhatikan Shion. Shion melangkah pergi.
"Hey?? Tak ada kata terimakasih? Aku baru saja menolong mu!!"
"Te-te..ri..ma.ka'sih hiks"

Yah mungkin Sasori sedikit jahat, wanita yang menangis diajak bicara. Kemudian Shion kembali..
"Sapu hiks tangan..mu akan ku cuci hiks"
"Ya.. Tak apa. Pakai saja selagi kau memerlukannya"
xXx
Di Atap Sekolah..
"Sasu..aku..aku tidak bisa"
Hinata meninggalkan Sasuke yang terdiam di atap sekolah.

"ARRRRGGGGGGGGG"
 Menghempas setiap benda yang dilihatnya.
xXx
Pulang sekolah, Hinata bersama Toneri ke butik.
"Nona, bagaimana dengan yang ini? Nona..?”
"Hahh?? Umm ya"
Hinata tak konsen, perkataan sasuke selalu terpikir olehnya
'Apa kau mencintai ku?'
Hinata menutup kuping dan matanya, Toneri yang dari tadi mencoba pakaiannya kini matanya tertuju pada Hinata.

Hari ini adalah hari pertunangan Hinata dan Toneri. Hampir semua undangan sudah datang. Hinata lagi-lagi melamun.

"Kau baik-baik saja?"
Toneri memegang bahu Hinata. Hinata mengangguk, kemudian menggeleng. Toneri bingung, namun dengan instingnya dia membawa Hinata untuk duduk beristirahat. Gaara tiba-tiba datang, didengar dari napasnya, dia seperti habis berlari. Berdiri tepat dihadapan Hinata.

"Gaara-kun, ada apa?"
Hinata bertanya sambil memberikan isyarat kepada pelayan untuk membawakan air minum, untuk Gaara.

"Minumlah dulu.."
GluklGukGluk.
"Hahh..Hinata Sasuke.."
"Ya, Sasuke kenapa?"
"Sasuke kecelakaan, dia sekarang koma di Rumah Sakit."
Cangkir yang dipegang Hinata terlepas..Hinata ingin pergi, namun Toneri mencegahnya.

"Lepaskan aku hiks hiks kumohon"
Cengkraman Toneri semakin erat.
“Ku mohon..hiks hiks”
Air mata Hinata member suatu penjelasan untuk Toneri.
Dia melonggarkan genggaman tangannya.
Jangan Tanya untuk orang-orang yang berada disana, dari suara dentingan cangkir yang pcah, mereka sudah menjadi sorota para tamu.

“Apa yag terjadi?”
Kaguya datang menghampiri Toneri.
“Aku melepaskannya..
Wajahnya sendu.
Apakah aku sudah berbuat benar.. Kaa-san? ”
Kaguya memeluk erat anak semata wayangnnya.
“Kau benar Tone-kun, kau benar. Tak apa. Kaa-san akan membatalkan acara pertunangan kalian. Anak Kaa-san sudah bertarug dan adil dan keren”

Kaguya memang terlihat dingin, namun sebenarnya dia sangat menyayang ananya. Walau sedih, dan sedikit marah karena gagalnya pertunangan yang akan berdampak malu, akan dia lakukan untuk anaknnya.
xXx
Di Rumah Sakit
Kedua orang tua Sasuke tidak ada, hanya ada Itachi, Naruto, Sai, Sikamaru. Gaara dan Sasori juga ada disana.
Semuanya menunduk sedih.
“Sasu..ke..”
Hinata tak kuasa melihat ini.
“Maafkan kami Hinata-chan, gomen kami tak sempat menyelamatkannya”
Sai mencoba menjelaska.
Naruto yang tak henti-hentinya menangis.
“Tidak mungkin!!”
Hinata menggeleng pelan, semuanya terlihat buram karena air matanya.
Berjalan menuju jasat Sasuke. Membuka kain yang menutupi wajah itu.
Memeluknya..
“Disaat terakhir dia bilang sangat mencintai mu, meski aku sangat membencinya, tetapi aku tidak tau dia akan berakhir seperti ini” Sasori mengelap air matanya yang menetes.

“Baka otouto, aku tak menyangka yang dikatakannya tadi pagi ternyata mejadi kenyataan. Dia bilang tak ada gunanya lagi utuknya hidup”
Itachi tak kuasa menahan tangisnya.

“Gomen..gomen.. gomen..hiks Sasuke-kun,, sugguh aku sangat mencintaimu,, aku mencintaimu. Hiks..”
Memeluk erat jasat itu.
“Hiks.. aku mencintai mu”
Berulang kali hinata megungkapkan perasaannya.

“Aku rasa iu sudah cukup”
Sasuke membuka matanya, tangannya memeluk Hinata. Hinata terbelalak. Tangisannya berhenti.
“Kau?? Kauuuu!!”
Hinata mengumpat
“KUsso SAsukeeeee!!”
“Bagaimana vidionya?”
Sasuke bertanya pada Gaara
“Yossh.. sangat bagus”
“Hey.. Heyy acting ku yang sangat bagus”
Naruto tak mau kalah
“Kalian,, jadi kalian bersekongkol?”
Pletak Pletak Pletak
Semuanya mendapat satu jitakan dari Hinata, kecuali Itachi. Itachi tersenyum bangga.
“Ita-nii juga!!”
Hinata menghadiahkan satu cubitan keras di pinggang Itachi..
“AAA… Itaii ” Meski sedikit kesakitan namun raut bahagialah yang menghiasi wajah mereka semua.
Sasuke bangkit dan menghapus air mata Hinata.
Memegang wajah Hinata dan menatap mata itu lekat-lekat.
“Ekhemm..”
Hiashi berdehem, Fugaku, Mikoto, dan Hitomi ada disana.
Neji memisahkan Sasuke dan Hinata.
xXx
1 Tahun Kemudian..
Hari pernikahan Sasuk dan Hinata. Trlihat raut bahagia dari dua mempelai.
Toneri datang kepesta pernikahan Hinata.
“Sasuke jagalah dia, jika kau menyakitinya, aku tak segan-segan untuk mengambilya dari mu!”
Memeluk Hinata, Sasuke hendak perotes tapi bahunya dipegang Sasori.
“Kau.. apa yang diktakan Toneri barusan juga berlaku bagiku. Jika kau menyakitinya aku akan merebutnya dari mu..”
“Ha?? Ka..kalian. Tidak akan aku akan melepasnya, akuu akan menjaganya meski nyawaku taruhannya”
Sasuke kembali menarik Hinata kepelukannya.
“Mungkin kita tak akan bertemu untuk waktu yang lama, aku akan ke Amerika”
“Tenang saja Hinata tak akan kangen degan mu”
Sasuke memeluk Hinata posesif.

Shion datang memeluk Hinata.
“Aa.. Saputangan”
Shion menunjuk Sasori, Sasori si saputangan dia tak tau namanya.
“Eh..” Yang dipanggil hanya melirirk sekilas.
Shion memberikan Saputangan merah Sasori.
“Terimakasih, ini ku kembalikan”
Gaara yang melihat tak mau tiggal diam untuk saudara tirinya itu, entah kenapa, dia akhir-akhir ini suka jadi makcomblang padahl dia sendiri masih jomblo.
Dengan jahilnya Gaara mengikat gaun Shion dengan sabuk Gaara.

Sikamaru datang dengan seorag perepuan. Yang lain melihatnya melengo, dia membawa Ino sebaai pasangannya.
Naruto juga datang dengan Sakura, yah.. mereka memang sudah jadian dan katanya juga ingin menysul Sasuke dan Hinata.
Tenten yang terlihat berbeda, rambutnya digerai yang membuat Neji jatuh cinta ketika meihatnya, Tenten terlihat malu-malu karena Neji selau menempel padanya, Neji sudah seperti permen karet.
Itachi, Sai dan Gaara trio joker alias jomblo keren, melengo ketika melihat artis terkenal Mei Terumi juga datang.
Baru saja mereka ingin menghampiri, ternyata dia datang bersama seseorang.. dia Kakashi??
Mereka bertiga kini berpelukan.
.
.
.
“Hinata apa kau mencintai ku?”
“Sangat Sasuke, aku sangat mencintaimu”
“Hinata, kau cinta pertama,dan terakhir ku”
OWARI

Silahkan Review untuk keritik dan saran